Kamis, 26 Januari 2017

370KM







Lebih baik kita usai di sini
Sebelum cerita indah tergantikan pahitnya sakit hati
Bukannya aku mudah menyerah, tapi bijaksana
Mengerti kapan harus berhenti
Ku kan menunggu tapi tak selamanya










SATU
Selamanya kita akan bersama.
Takkan ada keraguan kini dan nanti. Percayalah
(percayalah : Afgan & Raisa)

6 tahun yang lalu
       “sayang. Aku mau masuk Akademi Kepolisian” Kata Kenn.
          “Akademi apa itu?” jawabku.
          “sekolah khusus buat jadi calon perwira polisi, jadi taruna polisi gitu”
          “kayak pacarnya Nina?” tanyaku.
          “kalo itu bintara polisi yang, pangkatnya beda, sekolah nya Cuma 7 bulan, jadi minggu depan aku udah mulai tes, aku Cuma berharap selama aku berjuang kamu selalu ada di sisi aku yah, sampai aku sukses, kamu jangan pernah pergi ninggalin aku ya” jawab Kenn menjelaskan.
          Sekolah kami sudah ramai dengan lalu lalang siswa kelas 10 dan 11, sedangkan nasib kami sebagai siswa kelas 12 hanya menunggu hitungan minggu menunggu hasil ujian nasional.
          Aku duduk di depan kelas, bersama Kenn, hanya berdua. Wajahnya yang sedikit agak arab asia gitu, (dibilang arab banget engga juga sih,mirip bule justru, mungkin agak agak mirip Hamish Daud lah) selalu aku rindukan, kepalanya yang selalu dipotong model cepak, perawakan tinggi dengan badan yang lumayan bidang selalu menjadi sandaranku ketika sedih maupun senang, dia yang selalu menjadi orang ketiga setelah kakaku dan ayah sebagai superhero-ku.
          “kamu kok ngelamun?” tanya Kenn.
          “aku masih ga ngerti tentang Akademi Kepolisian, makannya ga kebayang” Jawabku asal.
          “nanti aku ajarin kamu tentang Akpol itu apa ya” kata Kenn.
          “sekolahnya dimana? Lama ga?” tanyaku.
          “di Semarang Jawa Tengah, cuman 4 tahun kok. Kamu mau nunggu aku pulang kan?” tanya Kenn.
          “tapi kita bisa sms dan telponan kan?” tanyaku lagi.
          “Cuma weekend aja sayang, namanya pesiar” jawab Kenn ringan.
          Karena keterbatasan aku tentang Akpol itulah aku hanya merasa bahwa hubungan kami akan bertahan akan sebuah landasan kesetiaan semata. Aku belum bisa membayangkan hal hal yang mengerikan tentang hubungan kami nanti, aku memilih untuk kuliah di Universitas Padjajadjaran Jatinangor, ketimbang harus masuk Akademi Kepolisian, karena aku berfikir bahwa Akpol pasti ujung-ujungnya Cuma jadi polisi doang, yang aku ngerti sih polisi yang kerja di lalu lintas dan aku masih gaptek tentang kinerja polisi lebih jauh.
          “aku dukung kamu masuk kemana aja Kenn, selama itu baik” jawabku meyakinkan.
          Kami berjalan menyusuri koridor SMAN 5 Bandung. Sma paling favorit di Kota Bandung, sekolah kami bersatu dengan SMAN 3 Bandung, bangunan sekolah kami yang masih berbau jaman belanda kadang bikin merinding dan pengen cepet selesai dari sekolah ini, tapi kini justru aku ingin bertahan disini, belum membayangkan berpisah dengan sahabat-sahabat aku.
          “Tiaaaaraaaaa” seseorang memanggilku dari belakang.
          “Ninaaaaa!!” sapaku sedikit berlari
          “aku keterima di ITB looohhhh” kata Nina.
          “yaaa kita jauh dong nanti ga bisa ketemu, aku di Jatinangor, kamu di Bandung” kataku.
          “jarak Nangor ke Bandung Cuma sejam kali ah ga usah lebay” jawab Nina semangat.
          Kami duduk di bangku kantin, aku, Kenn dan Nina sahabatku. Kami berbincang tentang cita-cita kami bertiga, sebenarnya kami satu geng ber 6, aku, Kenn, Nina, Abu, Laras dan Reza. Aku dan Tiara memilih untuk kuliah di Bandung, sedangkan Laras, mendapat beasiswa kuliah di Hawai’i, Reza dan Abu memilih untuk masuk Ke TNI, kadang aku ga abis pikir, mereka ga mau menikmati masa muda gitu ya.
          “hoi semua! Hahaha” teriak Reza memecah tawa kami bertiga.
          “za! Gimana? Udah daftar? Jadinya masuk Akmil apa Akpol?” Tanya Kenn
          “AKPOL! Noh si Abu masih pengen Akmil, ya semoga kita masuk deh” Jawab Reza
          Aku hanya kebingungan sendiri, apa lagi itu Akmil yang mereka maksud. Aku benar-benar awam dengan dunia ini, seakan aku memang beneran alien yang lahir didunia.
          Menghabiskan waktu dengan ngobrol ngalor-ngidul bikin waktu gak kerasa kelewat jauh, hari ini Laras dan Abu gak dateng kesekolah, jadilah kami ber-empat memutuskan untuk pergi ke Bandung Indah Plaza yang letaknya memang gak begitu jauh dari sekolah, cukup jalan kaki bisa sampai. Tanpa kendaraan. Itulah janji kami ber-6 menikmati beberapa hari kedepan sebelum akhirnya berpisah satu sama lain nantinya, kami harus bisa memanfaatkan waktu bersama ini dengan sebaik-baiknya.
          “makan apa nonton?” tanya Reza.
          “nonton aja yuk, daritadi dikantin nyemil mulu kenyang” jawab Nina.
          “yaudah nonton apa?” tanya Kenn.
          “apa aja deh yang penting nonton yaaaaa” kata Nina semangat.
          Aku memperhatikan punggung Kenn yang berjalan di depanku, perlahan aku merasakan kesedihan ini, kami ber-6 yang dari kelas 10 bersama-sama hingga akhirnya kami akan berpisah satu sama lain, terutama aku dan Kenn. aku menatap sudut bibir Kenn yang tersenyum senang, aku akan merindukan wajahnya yang aku usap pelan, genggaman tangannya yang menuntunku menyebrang jalan didepan sekolah, berjalan beriringan bersamanya, olahraga bersama walaupun aku memang lemah dengan olahraga. Perlahan aku memengan jemari Kenn yang kini berjalan disisiku, Kenn menatapku dengan penuh perhatian, seakan dia mengerti bahwa kami akan baik-baik saja nanti.
          “kamu kenapa?” Tanya Kenn.
          “kamu jangan ke Akpol ya” kataku asal.
          “buat masa depan kita nanti” Jawab Kenn.

.......................................................................................................................................

          Aku selalu menemani Kenn tes, menikmati panas menyengat Bandung disiang hari dan dingin Bandung di Malam hari, entah berapa lama waktu yang selalu aku buang untuk menemani Kenn dan Reza tes masuk Polri, terkadang mereka sibuk sendiri, mengurus beberapa berkas yang hampir membuat mereka menyerah, aku melihatnya aja udah meringis, berkasnya banyak banget.
          Terkadang kami bertiga pake mobil orang tuanya Reza, kadang pake motor masing-masing, kadang aku dibonceng, ini mungkin yang namanya membuang masa muda untuk sukses.
          Hari kelulusan pun sudah tiba, kami semua lulus dengan nilai sangat baik, hasil les di Ganesha Operation senin rabu, les primagama selasa kamis, dan les di rumah hari jumat, bukan karena sok pintar, tapi sekolah disini, bukan hanya gaya, kualitas otak kami menjadi bahan taruhan ke gengsian kami semua.
          “Aku, Kenn dan Abu lolos tingkat daerah, minggu depan kami berangkat ke pusat, selama dua minggu” pecah Reza ditengah keheningan dan tangis kami ber-6.
          “Laras, kamu kapan berangkat?” tanyaku.
          “bulan depan aku udah berangkat ke Newyork, 3 bulan aku intensive bahasa disana, kamu dan Nina gimana?” Jawab Laras.
          “kita september mulai kuliah,jadi beberapa waktu kedepan palingan mau nyari kerjaan partime gitu sih” jawab Nina.
          Aku memeluk sahabatku satu persatu, menangis bersama, termasuk 3 cowo gagah depanku, merekapun menangis.
          Aku berjalan bersama Kenn, menikmati waktu kami yang tersisa hanya sebentar, kenn bilang tes pusat akan memakan waktu 2 mingguan lebih, dia gak boleh pegang hp sama sekali, setelah itu kalau lolos, dia akan pendidikan langsung dan tidak memegang hp selama 3 bulan lebih, tanpa komunikasi dengan siapapun katanya, perlahan aku sudah mulai memahami apa itu taruna, apa itu akpol bagaimana pendidikannya, dan bagaimana kami akan menjalani hubungan ini kedepannya.
          “kamu jangan khawatir ya sayang, Kenn sayang kamu” kata Kenn penuh percaya diri, walaupun wajahnya menyimpan 1001 kekhawatiran.
          “jangan khawatirin aku, aku tetap di Bandung nunggu kamu pulang” Kataku meyakinkan.
....................................................................................................................................

          “MABA! TUNDUK!” teriakan seniorku sangat keras dibelakang kepalaku
          “GLEG!” aku seakan merasakan degup jantung yang berhenti sejenak beberapa saat.
          Ini hari ke 7 ospekku di Universitas Padjajadjaran, sebelum akhirnya aku resmi menjadi mahasiswa baru tingkat pertama semester pertama. Fakultas Ilmu Komunikasi, fakultas paling bergengsi di Unpad setelah kedokteran dan fisip.
          Aku melangkah perlahan melewati gedung 2 menuju kantin Fakultas, sepanjang jalan aku mendapatkan lirikan ketus dari senior yang mukanya ditutup, agar tidak terlihat siapa mereka, name tag besar, tas besar, rambut dikuncir, rok panjang, dan keringat mengucur bebas diatara pelipis mata, aku lelah dengan kegiatan ini.
          Dan semua menghitam.

.....................................................................................................................................
KENNARDI.
“SELAMAT PAGI” teriakku.
          “KAMU KURANG KERAS!” Pelatih membentakku sekali lagi.
          Saya merasa muak dengan keadaan ini, tapi inilah masa depan yang saya pilih. Selama 3 bulan ini saya dituntut harus siap dalam segala fisik dan mental walau kadang jiwa dan hati tidak bersatu dengan baik, tapi mau tidak mau harus saya jalani.
          “tiara” kataku dalam hati.
.....................................................................................................................................
REZA.         
“SELAMAT PAGI!”
          Saya melihat dengan mata kepala saya bagaimana Kenn berteriak dengan tangan yang bergetar hebat, ini masih pagi, saya tidak tahu jam berapa sekarang, kami seakan tidak tahu jam, yang kami tahu hanya waktu solat saja, tapi saya sangat senang bisa masuk pendidikan dasar sebagai taruna. Tidak jarang melihat Kennardi menangis di malam hari, bagaimana tidak, beberapa waktu yang lalu dia harus kehilangan ayahnya yang wafat, dia disini bersama saya dan Abu, ya pada awalnya Abu ingin masuk Akmil tapi Allah berkehendak lain, dia justru masuk disini bersama saya dan Kenn. dan janji seorang sahabat adalah tidak akan meninggalkan sahabatnya yang terluka. Beberapa saat yang lalu Kenn hampir menyerah dan ingin kembali ke rumah, tapi Abu selalu bilang, kita disini adalah cita-cita kamu tidak sendiri, saya dan Reza sahabat kamu dari smp. Abu yang selalu menguatkan Kenn dalam segala tindakan gegabah dan bodohnya.
          Ini adalah bulan oktober 2012. Bulan dimana kami akan bertemu dengan keluarga kami untuk pertama kalinya dalam wisuda tingkat satu, dan resmi menyandang pangkat Bharadatar, pangkat bentuk roket,

.....................................................................................................................................
LARAS.
          “ayaasss!!!” teriak Nina ketika video call kami tersambung
          “Kangeeeennn kaliaannn” jawabku penuh haru.
          “samaaaa.. gimana newyork? Seru ya???” tanya Nina.
          “banget! Kamu ga ospek?”
          “ITB gak ada ospek taun ini hahaha, Tiara tuh lagi jadi mahasiswa baru yang hak asasinya di tindas senior”
          “kasian ya, kemaren dia bbm, baru tidur jam 1 dan jam 4 udah kekampus.”
          Grup bbm kami sekarang sepi, bapak bapak polisi lagi pada pendidikan, aku dan Nina doangan yang masih selalu kabar-kabaran setiap detik dengan bbman secara pribadi takut ganggu yang lain. New york! Kota pertama yang aku datangi ketika melangkah di Amerika untuk pertama kalinya, awal tahun depan aku resmi menjadi mahasiswi Univerity Of Hawai’i, Manoa. Universitas ini masih masuk wilayah Honolulu, ibaratnya kabupaten mungkin ya, kenapa aku pengen kuliah disini? Karena aku sangat cinta laut dan pengen setiap hari memandang lautan dari tempatku sekolah, dan Honolulu Hawaii lah pilihanku. ALOHA !!



















DUA

Akademi kepolisian Tingkat 1
AWAL TAHUN 2013   
“gimana Kennardi?” Abu memecah keheningan.
          “apanya yang gimana?” tanyaku pelan.
          “kamu udah setaun loh ga ketemu Tiara, suruh lah dia sama Nina kesini, kita kumpul berlima” jawab Abu.
          “udah kok, dia mau kesini minggu depan tapi Nina ga ikut, tapi masih ngeri nih kalo ketahuan senior, malu aja, masih junior bau kencur gini udah berani bawa rekanita ke Semarang” jawabku asal, sekaligus mendapatkan anggukan mengerti dari kedua sahabatku, Abu dan Reza.
          Ini adalah tingkat 1 akhir kami, pangkat masih bharatutar (Bhayangkara Satu Taruna) pangkat saya yang tadinya seperti roket (V kebalik) melesat ketika bharadutar (bhayangkara dua Taruna) sekarang sudah mempunyai landasan dibawahnya semester ini saya rasa cukup melelahkan, sebagai junior, saya masih harus menyesuaikan segala bentuk pengasuhan, saya harus banyak belajar bagaimana menjadi junior akademi kepolisian yang taat dengan aturan.
          Semester saya di Bharatutar terbagi menjadi 2 semester dalam setahun penuh. Rasanya menjadi senior itu masih lama sekali menurut saya. Seperti akhir tahun kemarin, saya masih bharadatar, cuti saya dihabiskan dengan kumpul keluarga Korps Kehed, Korps yang berasal dari Jawa Barat, tidak ada waktu bersama keluarga kandung, tidak ada bertemu dengan Tiara yang lama, hanya sebentar, tidak ada waktu beristirahat, terlebih saya ingin mengunjungi pusara ayah sayapun sulit.
          Saya masih sibuk mengelap sepatu boots hitam saya, menggosok hingga mengkilap, sesekali menyingkap baju dinas lapangan di bagian tangan, tangan saya masih lecet dibagian sikut karena hasil merayap dilapangan beberapa hari yang lalu. Begitupun lutut saya, masih lecet-lecet, rasanya perih.
          Kaki kami melangkah menuju tempat makan taruna, saya masih kesulitan menghapal nama-nama senior saya, yang tidak jarang mendapatkan hukuman yang bikin hidup saya seakan dapat kiamat sugro, seperti  tadi pagi, ketika bertemu dengan senior tingkat 3 (brigtutar : brigadir satu taruna) senior itu memanggil nama saya sembari menutup nama di dada kanannya, mengetes ke apatisan saya harus mengenalnya lebih jauh dari saat ini, walaupun tidak mendapatkan hukuman apapun, tapi sebagai junior saya merasa malu dan merasa kiamat sugro.
          Masuk ruang makan, saya berpisah dengan Abu dan Reza, saya mencari abang yang saya temui tadi pagi dan saya sudah tahu namanya siapa, dan saya harus memberikan nilai respek tinggi terhadapnya. Dan berharap abang itulah abang saya dalam keluarga asuh saya kelak.
          “SELAMAT SIANG!” sapa saya. Sambil memberi hormat.
          “SIAPA NAMA SAYA?!”
          “SIAP! BRIGADIR SATU TARUNA TUBAGUS ADHI RAMADHAN!” jawab saya tegas
          “DUDUK”
          “SIAP TERIMAKASIH!”
          Beberapa saat kami makan bersama tanpa ada suara dan perbincangan sama sekali, sosok Bang Bagus lah yang menggetarkan saya tadi pagi. Tidak ada tindakan apapun yang dia berikan kepada saya, akan saya contoh.
          Tidak terasa pangkat roket saya sudah berubah mempunyai ekor. Dengan dua garis yang sangat menyenangkan, beberapa saat makan siang saya terganggu, saya merindukan ibu dan alm. Ayah saya, biasanya makan siang kami bersama-sama dirumah, kini semua seakan berbeda. Ayah saya hanya pensiunan pns, dan kini ibu saya hanya berjualan makanan di rumah makan sederhana milik keluarga kami. Sesaat saya merasa air mata saya penuh, dengan sekali kedipan berhasil jatuh dipipi, secepat kilat saya mengelap air mata yang mulai turun, ibarat wiper, dia terus mengalir dan tangan saya langsung mengelapnya.
          “kenapa kamu?” tanya bang Bagus
          “siap bang, kelilipan bang.”
          “jangan bohong kamu, kalau sedih cerita sama saya nanti”
          “siap” jawab saya pelan.
          Hati saya berdegup tidak menentu, hidung saya masih mengatur nafasnya perlahan dengan sesekali isakan. Entah apa yang saya lakukan siang ini, didepan para senior saya, malu. Makanan seakan tertahan di tenggorokan tanpa bisa ditelan.
          Saya benar-benar merindukan orang tua saya, ingatan saya melambung dalam beberapa bulan yang lalu, setelah saya diterima di akpol, saya harus mendapat kabar orang tua saya wafat, terkena serangan jantung, saya menyesali diri saya, mengapa dulu ingin masuk sini, kalaupun saya tidak memilih akpol, mungkin dulu saya bisa menolong ayah saya dirumah. Malam itu dingin menusuk kami sebagai prabhatar, saya sedang duduk merebahkan kaki yang sangat sakit menahan lecet disegala sudut kaki saya, ketika pelatih memanggil saya.
          Berjalan penuh kekhawatiran mengikuti langkah pelatih. Sampai akhirnya kaki kami berhenti tidak jauh dari seluruh prabhatar.
          “Kennardi, kami berikan kamu waktu pulang ke Bandung 2 hari, setelah itu kamu harus kembali kesini dan pendidikan lagi, bisa?”
          “siap” jawaban saya dengan penuh pertanyaan, ada apa sebenarnya.
          “kami turut berduka cita, ayahandamu wafat sekitar 1 jam yang lalu, ibumu tadi menelpon kami, memberi kabar duka, ibumu meminta agar kamu tidak usah pulang, agar tidak mengganggu konsentrasimu. Tapi saya rasa ini tidak bisa, itu orang tuamu, saya sudah memutuskan untuk mengantar kamu malam ini ke Bandung dan kita akan kembali lusa, kamu bisa?”
          “siap bisa” tidak ada kalimat apapun yang keluar.
          Saya masih ingat ketika saya berlarian menenteng tas besar, karena saya tidak punya koper, mencari kedua orang tua saya setelah sidang pengumuman pusat calon taruna akpol, kemeja putih dan celana panjang hasil tabungan saya selama ini menjadi saksi perjuangan itu penuh liku-liku. Saya mencari kedua orang tua saya untuk berpamitan menempuh pendidikan yang saya impikan, sorot mata itu, sorot mata ayah yang selalu menjadi panutan saya,beliau tersenyum sembari menangis. Saya memeluknya erat, beliaulah yang selalu meminjamkan motornya ketika saya tes, beliau yang selalu memberikan uang jajan dan ongkos untuk saya menjalani tes. Saya mencium kedua kaki orang tua saya, meminta doa restu dan ijin agar mampu mengangkat derajat keluarga kami setahap lebih tinggi, membantu ekonomi keluarga kami kelak.
          Berlari mencari Abu dan Reza adalah pilihan saya saat itu, ditengah gelap malam, saya mencari sosok Abu yang selalu menjadi penenang saya.
          “Bu!” panggil saya sembari menahan nafas yang ngos-ngosan dengan air mata yang mengalir.
          “Ken? Ada apa kamu? Kenapa?” jawab Abu yang masih duduk di depan pohon.
          “Ayah saya meninggal Bu!” jawab saya sembari menggigit bibir dengan getaran hebat.
          “inalilahi! Sabar Kenn” bangkit Abu dengan memeluk saya dengan erat, kami berdua menangis.
          Malam itu saya pulang ke Bandung tanpa membawa apapun, saya hanya masih menggunakan baju lapangan berwarna hijau, dan tidak bertemu dengan Reza untuk mengabarkan hal ini, ini kepulangan rahasia saya. Tidak ada yang tahu selain Abu.

.......................................................................................................................................
TIARA.
Jatinangor
Semester 1.

          Satu jam setelah ketinggalan bis kota, aku masih jadi alien dipinggir jalan, dengan teh botol dingin ditangan kiri ku. Mata ku memandang jauh memastikan bis Elang Jatinangor segera datang untuk mengantarku ke kampusku, dan berharap bis ac lah yang datang.
          Bis sudah memasuki tol Moh. Toha, sialnya adalah kebagian bis non ac, dan sial lanjutannya saya duduk di bangku artis, alias bangku besar sebelah supir, kaki saya bergerak naik turun dan berharap tidak terjatuh ke tangga depan muka aku dan terlempar ke luar bis, segera aku memegang dashboard besi bis ini, anggap aja ini pesawat ulang alik yang saya tumpangi untuk kembali ke bulan.
          “Kennardi, kamu lagi apa” tanyaku dalam hati.
          Ini bulan kesekian hubungan kami seakan ada jarak yang sangat besar, ibarat bulan dan bumi. Jauh sekali. Terlebih kemarin malam adalah hari ke 100 tahlilan Ayahanda Kenn.
          Aku merindukan Kenn, sangat merindukannya, khawatir dengan keadaan dia, ketika bertemu pertama kali beberapa bulan yang lalu, ketika pemakaman ayahnya, Kenn sangat kurus mungkin karena memang pendidikannya yang mengharuskan dia kurus.
          Bis sudah berhenti di gerbang kampus Unpad Nangor, aku tidak perlu repot berlari, ojek sudah siap di pintu keluar bis.
          “Fikom ya kang, ngebut” perintahku
          Aku kuliah jam 14.30 siang ini dan hanya satu mata kuliah, Ilmu Komunikasi Dasar. Motor mamang ojek ini menembus riuhnya pohon didepan ITB Jatinangor, yang dulunya ini adalah kampus Unwim, Universitas Winaya Mukti. Sejuk.
          “Tiara. Tau ga dosennya ga masuk”
          “SERIUS LOOO???” jawabku sedikit teriak.
          “aku udah jauh jauh dari Bandung, panas-panasan, ketinggalan bis, dan gak ada dosen? Sumpah yah maunya apa sih bapak itu, dia minta pindah siang dan gak dateng, kesel!!” makiku gak jelas.
          “yaudah sih, ke kosan aku yuk. Aku traktir deh makan nasi gila, es cendol sama lumpiah basah gimana? Awal bulan”
          Kosan Dita emang bisa dibilang lumayan enak, gak jauh dari gerbang kampus yang notabene pusat jajanan mahasiswa Unpad, dengan kamar mandi didalam. Lumayan nyaman untuk kosan murah.
          Bayanganku tertuju kembali kepada seseorang disana, Ken. Apakah dia sudah makan apa belum, lagi latihan apa engga, kangen aku apa engga, bahkan aku gatau. Kami hanya berkontak sekitar 1 bulan yang lalu, itupun hanya bertanya kabar tanpa ada sebuah rindu yang terbalas sempurna, kami hanya berbicara melalui telepon selama satu jam, sampai akhirnya telepon itu terputus karena dia ada latihan sore dan sampai detik ini akulah yang berperan dengan penuh kesabaran karena hubungan yang terhalang bukan hanya dengan jarak tapi dengan waktu.
          Pacaran dengan seorang taruna tingkat 2 engga seenak dengan bayanganku dulu, ternyata ini makin sulit. Teleponan di kala weekend yang hanya sekali saja itu hampir membuatku mengambil sikap untuk mengakhiri semuanya. Tapi aku bertahan karena sebuah janjiku,untuk menunggu dia pulang. Hanya liburan ramadhan lah yang bisa aku andalkan saat ini, mungkin bisa ada waktu bersama itupun kalo aku ga mudik, karena pacaran kami di awal tahun kemarin pun terganggu dengan kunjungan dia ke rumah senior seniornya.
          Bis membawa aku menuju Bandung sudah sampai di persimpangan jalan Kopo, sudah waktunya turun dan naik angkot jurusan Soreang Leuwipanjang. Sepanjang perjalanan, aku membuka beberapa fotoku bersama Ken, mulai dari jaman sma, sampai akhirnya kami berfoto dengan dia yang menggunakan seragam taruna yang kedodoran. Mukanya hitam kucel dan ga seganteng dulu, tapi masih ada sisa gantengnya sih dikit.
          “kenn kangen...” desahku perlahan tanpa sadar hati ini meringis sampai menghasilkan bulir air mata turun.


.....................................................................................................................................
Akademi Kepolisian
         
“Kennardi!” sapa Bang Bagus di stadion taruna, sore ini kami tidak ada kegiatan, jadi saya memilih untuk berolahraga saja.
          “siap bang”
          “abang mau ngobrol” jawab bang Bagus.
          Kami berdua berjalan menuju tangga di stadion taruna akpol, saya mengekor bang bagus berusaha tidak terlalu jauh dengan jaraknya melangkah. Kaos olahraga berwarna abu abu bertuliskan taruna dengan celana training kuning dengan garis hitam pada bagian samping yang digunakan bang Bagus, seolah seperti cerminan saya saat ini.
          “tadi siang kamu kenapa?” tanya bang Bagus
          “siap bang, saya rindu alm Ayah saya bang”
          “abang sudah dengar cerita kamu tentang wafat ayahmu beberapa bulan yang lalu, abang paham dengan kejadian seperti itu, abang turut berduka cita”
          “Ken, abang belum pernah ada di posisi sulitmu seperti itu, abang dari Korjak dek (korps Jakarta), jadi kamu pasti belum mengenal saya, tapi kamu bisa hubungi saya kalau ada keluh kesah, anggap sajalah saya kakak kamu yah. Jadi taruna itu memang sulit dek, butuh kesabaran dan keikhlasan disini, walau kadang hati bertolak belakang tapi ini tanggungjawab kita. Kamu adalah abang dulu, dan abang sekarang, adalah kamu masa depan. Paham?”
          “siap paham”
          “jangan terlalu diambil pusing, jalani. Kejar terus semuanya dek, kamu punya pacar?” tanya bang Bagus
          “siap ada bang, namanya Tiara”
          “suruh dia ke Semarang, nanti pesiar minggu depan abang mau pesiar ke pos pesiar, kamu harus ikut abang, pesiar pertamamu kan?kita pesiar sabtu aja. Jadi bisa makan malam sekalian dek, nanti abang ajak kamu jalan-jalan lah. Kamu harus makan enak, terlebih beban mentalmu bertambah akhir-akhir ini, abang kan ga suka liat adek-adek abang menderita, kasihan. Abang pernah ngerasain seperti itu, rasanya pengen mati aja tapi susah. Kamu kalo ada apa-apa cari abang di flat. Kennardi kelak abang ingin kamu seperti abang, pake ini” katanya sambil menunjuk tali koor yang tersemat dengan gagahnya di dada kanannya.
          “kamu cari tahu, siapa abang, jabatan abang apa, setelah semua kamu hapalkan abang tunggu kamu di flat” tambahnya.
          “siap bang”
          “abang mau balik dulu, kamu lanjut larinya, ingat! Kamu adalah saya dimasa depan!”
          Bang Bagus meninggalkan saya dengan sejuta kebanggaan, dia tidak banyak berbicara, hanya memberi sebuah motivasi yang memacu saya untuk bisa menjabat seperti beliau. Saya akan membayar semua ucapan bang Bagus dengan sebuah kebanggaan seorang kakak yang melihat adiknya meneruskan kerja kerasnya.
          “ini buat Ayah, Ibu, Kenzi dan kamu Ra” kataku pelan tapi mantap.
          Sore berganti malam, saya berjalan menyusuri flat senior, kamar bang Bagus sudah ada didepan mata saya kini, perlahan saya mengetuk kamarnya, ini kali pertama saya berkunjung ke flat anggota senat taruna, terlebih bang Bagus juga seorang stick master di akademi kepolisian, bisa dibilang artisnya marching band Cendrawasih Akpol. Beliau adalah sosok utama yang selalu dilihat oleh penonton dalam sebuah parade cendrawasih. Ya senior ku ini bukan sekedar senior, beliau akan menjadi kakak saya selama disini.
          “eh dek” sapa bang Bagus ketika pintu terbuka.
          Dia baru selesai mandi, mukanya masih sangat segar, badannya sudah terbentuk baik, otot perut, lengan dan pundaknya sudah sangat “keren” berbeda dengan badan saya, yang masih dekil, kurus dan ga karuan, rasanya ingin cepat menjadi senior. Badan saya sekarang engga ada bagus-bagusnya.













BAB 3


2 Maret 2013

          Kereta Harina sudah berhenti di stasiun Tawang Semarang, ini kali pertamanya aku berangkat ke kota ini seorang diri, matahari belum menampakan dirinya, dan ini masih jam 5 pagi, aku menikmati perjalan 8 jam menggunakan kereta api membuatku sedikit jetlag sepanjang perjalanan membuat saya ketakutan nyasar, ini kali pertamaku ke Semarang, beberapa stasiun selalu membangunkan ku, aku takut kelewatan stasiun, terlebih aku dan Kenn hanya berkomunikasi menggunakan sebuah email, tidak ada telepon atau sekedar sms, hanya sebuah email yang aku terima beberapa hari yang lalu, email yang dia meminta aku ke Semarang hari ini hingga minggu, walau hanya 2 hari, aku akan memanfaatkan waktu yang dia sediakan.
Ini bukan sekedar hubungan jarak jauh, kami harus melawan rasa ego, hanya ada waktu sabtu dan minggu untuk bisa berbicara lewat telepon. Hanya wanita dengan kekuatan sailormoon yang bisa bertahan dengan hubungan seperti ini, bayangkan aja, dalam 365 hari setahun kami hanya bisa ketemu ketika ada longweekend, libur lebaran, natal dan tahun baru aja. Itupun kalau para taruna engga ada kegiatan kumpul sama seniornya. Sebenernya aku masih sangat belum paham kapan Kenn bisa ngasih waktu, tapi aku menikmatinya, aku sedang belajar menjadi rekanita (rekan wanita, alias pacar alias cewe yang deket sama taruna) yang baik dan setia. Selebihnya pacaran hanya bisa lewat telepon di hari sabtu dan minggu, kadang rabu juga ada sih pesiar, tapi hari ini pesiar pertama Kennardi.
 Aku mencari mushola, sembari menggendong tas besar, untuk menghabiskan 2 hari berlibur ke kota ini. solat subuh adalah pilihan utamaku sekarang, sebelum harus mencari taxi menuju kawasan Candisari Semarang
          Matahari pagi menyambut cerah suasana hatiku pagi ini, masih ada beberapa jam lagi aku bisa ketemu Kenn pesiar, sudah saatnya aku bersiap diri menuju kawasan Pendanaran Semarang, kata orang sini sih lumayan jauh, satunya transportasiku hanyalah taxi. Menikmati beberapa jam keliling Semarang mungkin akan menyenangkan.
          Aku duduk di kursi sudut jendela Tongji Citraland, menikmati riuhnya jalanan Simpanglima Semarang, baru sekali aku kesini sudah terhanyut dengan rasa cintaku di kota ini. Aku menatap bungkusan kotak disebelah kursi ku sembari menikmati tempe mendoan yang enak banget.
          Jam sudah menunjukan jam 1 siang, setelah solat dzuhur di masjid sekitaran Simpanglima, aku memilih untuk mencari taxi yang akan membawaku kembali ke daerah Candisari lagi. Hati ini benar-benar enggak bisa diatur detaknya, aku ingin cepat bertemu Kennardi, menikmati 2 hari ku di kota ini. 2 hari yang hanya bisa dihabiskan dalam waktu beberapa saat saja.

.........................................................................................................................................

          “Kennardi mana?” tanya Dimas
          “yo suh, kenapa?”
          “disuruh menghadap brigadir taruna Bagus” kata Dimas.
          “mampus kau! Ada masalah apaan sama senior?!” tanya Angga
          “waahh Ken, parah lu!” kini Dwi menambahkan
          “saya kesana dulu deh, sudah siap.” Jawab saya ringan sambil senyam senyum.
          “lu gak pesiar?” tanya Dwi.
          “ini mau pesiar sama Bang Bagus” jawab saya ringan.
          Kaki saya melangkah menuju resimen akademi kepolisian, langkah yang sangat ringan, seakan tidak ada beban dan khawatir berlebih, ketemu senior, saya gak boleh takut, apapun yang diperintahkan kerjakan dengan senyuman dan ikhlas!.
          Pakaian dinas pesiar malam taruna sudah saya gunakan dengan baik hari ini, ini pertama kalinya saya pesiar, pertama kalinya saya menggunakan baju ini, sebuah kemeja tangan panjang abu-abu, dipadukan dekan jas berwarna coklat, dengan pedang kadga yang tersemat di bagian kiri pinggang saya. Menenteng tas pesiar besar, dengan pet (topi) yang selalu membuat keringat mengucur deras. Saya sesekali mengecek penampilan saya ketika melihat cermin, atau kaca besar, memerhatikan diri, sudah baik atau belum. Memegang saku baju, memastikan buku saku taruna selalu saya bawa.
          Setiba di cafe Taruna, saya melihat beberapa senior yang menaiki bus akademi kepolisian, mereka sudah mau pesiar. Saya menunggu kabar bang Bagus, dan bodohnya saya tidak tahu nomor hpnya bang Bagus.
          “dek!” teriak bang Bagus.
          “siap!” saya berlari menuju Bang Bagus.
          “maaf saya terlambat bang”
          “gak apa-apa dul, ayok, kita naik bis itu, turun digerbang”
          Hati saya langsung meringis, bagaimana tidak, bis itu berisi senior tingkat 3 dan saya tingkat 1 yang masih bau kencur.
          “sudah tidak apa-apa, mereka taunya kamu adik saya”
          Banyak pandangan heran senior ketika saya masuk dalam bis ini, beberapa orang memberikan sorotan mata bingung dan seakan mengintimidasi (padahal Cuma perasaan aja).
          “pacarmu nunggu di Kfc?”
          “siap bang, tadi baru saya telepon , dia bilang sudah di Kfc”
          “hari ini, kamu pesiar sama abang, besok juga bareng, tapi nanti kita pisah, kamu sama pacarmu saja kemana kek, nanti isya besok kita ketemu lagi, abang biar memastikan adik abang aman untuk pesiar perdananya, jangan pulang terlambat apalagi kamu junior. Oiya satu hal lagi, jaga sikap dan pandangan selama pesiar yah. Jangan malu-maluin, liat ini kerah bajumu keringat, mana sapu tanganmu”
          “sapu tangan saya ada bang” saya langsung membuka tas pesiar saya, mencari sosok bernama sapu tangan, dan mengelap keringat yang mengucur. Gerah sekali.
          Hening tercipta dengan cepat, nafas saya mulai tidak teratur, ini lebih deg-degan ketimbang masuk akpol pertama kali. Tiara sudah menunggu disana.

.....................................................................................................................................
TIARA

          Aku memandang gerbang Akademi Kepolisian, sesekali kepalaku celingukan kayak anak ilang. Gerbang ini sungguh besar, beberapa orang taruna melewatiku, aku masih mencari sosok Kennardi disini.
          “Tiara” seseorang memanggilku pelan
          “Kenn” sapaku ringan.
          Kenn dengan seragam pesiar malamnya sungguh sangat wibawa, jas coklat tua dengan baju kemeja abu-abu dipadukan dasi hitam, membuatku tersenyum ringan, senyumannya seakan ini adalah nafas yang aku inginkan dikala kehabisan nafas.
          “sayang” kata Kenn pelan, sambil memelukku pelan melepas rindu
          “kenalin ini Bang Bagus, kakak ku di Akpol”
          “halo adik ipar, saya Bagus” seseorang bernama Bagus Mengenalkan diri.
          “tiara bang” Jawabku sambil menyalami Bang Bagus.
          “yoklah kita makan di kfc situ aja, abang lapar, didalam gak ada makanan yang bikin kamu segeran Kenn” kata Bang Bagus
          “siap bang, tapi bang. Hmmmmmm” suara Kenn menggantung.
          “abang yang teraktir hari ini dan besok, kamu harus irit uang sakumu, abang ada uang lebih. Jangan khawatir”
          Kami bertiga makan sore di Kfc Akpol, Kenn berbeda dengan kenn sebelumnya, dia lebih pendiam karena seniornya, sedangkan bang Bagus sangat humble mengajak kami berdua berbicara tentang pacarnya yang Putri Indonesia. Kami terlarut dalam keakraban bang Bagus, kemudian bang Bagus minta Line dan emailku, dia akan mengabarkan keadaan Kenn lewat jejaring sosial itu. Bagaimana tidak, kenn hanya bisa berhubungan denganku sabtu dan minggu, sedangkan bang Bagus dia bisa main laptop dikamarnya, karena tahun depan dia akan lulus dari Akademi ini.
          “dek, abang mau ajak kalian ke simpang lima, kita nyari angkringan, kita nikmati malam ini dengan baik yah!”
          “siaaapp kakakuuuuu” jawabku senang.
          Aku memegang tangan Kennardi sepanjang perjalanan menuju simpang lima, kini aku yang mengajukan untuk membayar taxi, karena engga enak pacaran gratisan, dan Kenn memaksa untuk membayar makanan ringan sesampainya di simpanglima, walaupun engga disetujui bang Bagus, akhirnya kakak kami itu luntuh juga dan mengalah.
          Kawasan Simpanglima malam hari berbeda dengan siang hari, sungguh ramai dan penuh cahaya, kami bertiga menikmati waktu ini sebaik mungkin, bang Bagus tanpa canggung mengajak kami bersepeda mengelilingi bundaran Simpanglima. Dia memang sudah seperti kakak ku dan Kenn saat ini. Bang Bagus cerita bahwa dia anak tunggal dan dia mencari sosok adik yang bisa dipercaya, dan Kenn lah pilihannya sebagai penerus dia kelak.
          “Kenn bisa main sepatu roda?” tanya Bang Bagus
          “siap bisa bang”
          “ayok kita main, abang sudah lama ga sebebas ini dek, senang sekali”
          Aku memegang jas yang mereka pakai tadi, badan Kenn dan Bang Bagus sungguh sangat menggiurkan, seksi banget, pengen meluk rasanya. Mereka tertawa bersama tanpa ada pembatas senior dan junior, sesekali bang Bagus memberi jitakan kepala Kenn, dan Kenn sesekali merangkul bang Bagus ketika akan terjatuh tanpa canggung, mereka seperti adik kakak.
          Melihat beberapa anak-anak kecil bermain otoped mengingatkanku ke masa kecil, masa dimana aku bermain otoped dan petak umpet, aku rindu masa itu.
          Taxi membawa kami kembali ke Akpol, kenn nampak lelah hari ini, sesekali aku mengelap keringatnya yang turun dari kepala botaknya, beberapa kali Kenn menolak karena malu dengan Bang Bagus, tapi bang Bagus justru mengijinkan kami romantis ria didepannya. No problem.

.....................................................................................................................................
          Minggu pagi aku masih menikmati sarapan pagiku di hotel, mataku masih sepet, tidurnya tengah malem karena seneng ketemu Kenn sekaligus sedih karena harus berpisah lagi hari ini.
          “Tiara” sapa seseorang dibelakangku
          “Ken???” tanyaku
          “kok kesini pagi?” tanyaku lagi.
          “hehehhe.. disuruh kakak.”
          Aku mengerti maksud Kenn siapa, kami menikmati sarapan kami berdua, karena jatah kamar kan 2 orang. Hari ini sesuai janji kami, aku, Kenn, Abu, Reza dan bang Bagus akan berjalan bersama-sama diSemarang, sengaja bang Bagus menyewa mobil untuk kami pakai bersama-sama, Kenn sudah terlebih dulu menjemputku di hotel, sedangkan Abu, Reza menemani bang Bagus mencari kendaraan untuk disewa hari ini.
          Kenn sarapan dengan lahap, dia bilang makanan di akpol semua terbatas, gizinya dipantau, jadi kalo dapet makanan enak gini itu, rejeki anak soleh. Kenn mengambil beberapa kali cemilan, jus, dan buah-buahan, dia bilang udah lama ga makan enak.
          Jam sudah menunjukan pukul 11 siang, kami berlima sudah memasuki gedung tua lawang sewu. Bangunan ini benar-benar indah. Kami berjalan mengekor bang Bagus, dengan seksama bang Bagus menceritakan sejarah bangunan ini, sesekali aku celingak sana celingak situ buat menikmati bangunan ini.
          “kita foto ya?!” kata Bang Bagus
          “siap bang” jawaban 3 sekawan
          Aku berjalan beriringan dengan Kenn, memegang tangannya erat, berfoto bersama, ini waktu yang harus kami nikmati bersama hari ini. Kenn bercerita banyak hal tentang kehidupan barunya, pada awal sulit hingga akhirnya dia bertemu Bang Bagus, semua menjadi berubah, dia lebih bersemangat dan tidak mau leha-leha lagi.
          “sayang” panggil Ken ditengah keheningan kami berdua yang berpisah dengan Abu,Reza dan bang Bagus.
          “iya”
          “hmmmmm” Kenn celingak celinguk diruangan seribu pintu.
          “aku sayang kamu” lanjutnya.
          Sebuah ciuman mendarat di bibirku, ciuman hangat seorang taruna yang membuatku jatuh cinta dari dulu, ini ciuman pertama kami, kenn memelukku erat, memastikan bahwa dunia ini hanya milik kami berdua. Aku memegang pipinya yang keras, merasakan otot perutnya yang terbentuk, merasakan ciuman hangatnya yang lama.
          “EHEM!” dehaman seseorang membuat kami berdua seketika menjauh.
          “Siap salah bang!” kata Kenn
          “PUSHUP KAMU!” teriak bang bagus, membuat aku merasa takut.
          “siap!”
          Tanpa diperintah Reza dan Abu pun langsung memasang posisi pushup, mereka berbarengan menghitung hingga 50x pushup dan aku hanya merasa takut.
          “HAHAHAH!! Sudah cukup adik-adikku” kata bang Bagus.
          “lain kali kalau mau ciuman, tempat sembunyi, kalo ketahuan orang lain bisa kena tindakan kamu dek”
          Kami berpisah dengan bang Bagus, beliau melaju dengan mobil sewaannya, sedangkan kami berempat mencari kendaraan menuju Paragon Mall. Sesuai dengan janji kami berempat, kami akan menunggu bang Bagus jam 5 sore di mall itu, jadi kami memutuskan untuk membuang waktu disana, menonton film berempat, dan sesekali mengirim foto di grup bbm, yang mendapatkan banyak hinaan dari Laras dan Nina, mereka bilang 3 cowo ini hitam, dekil, jelek, botak,kurus. Dan memang benar sih.
          “Kenn, bang Bagus sumpah baik saktaaekkkk!!” kata Abu. (saktaek : sekali)
          “beruntung kamu dekat dengan bang Bagus, dianggap adik pula, kita bisa aman hahaha” tambah Abu.
          “hahha, kalian harus cari calon kakak asuh juga sepertinya”
          (kakak asuh : kakak pengganti kakak kandung dikeluarga asli, ini sudah ada dari jaman akademi bersenjata indonesia, kakak asuh didapatkan ketika pemilihan keluarga asuh, jadi junior tingkat 2 memilih barang kakak asuhnya, yang kemudian menjadi miliknya nanti tanpa tahu itu milik siapa, entah seniornya yang mana dan masuk kedalam keluarga asuh, biasanya ada beberapa taruna junior dalam satu keluarga, dan mereka kalo ada apa-apa cerita ke abang-abangnya, dan belum tentu Kenn masuk kedalam keluarga asuh bintang bang Bagus).
          Tradisi ini merupakan budaya turun temurun dan telah menjadi sebuah kebiasaan. Salah satu tradisi tersebut adalah tradisi ‘keluarga asuh resimen’. Tradisi ini memiliki makna sebagai berikut :
1.       Mengembangkan sifat asah, asih dan asuh antara Taruna senior dan Taruna junior dengan membentuk suatu ikatan Keluarga Asuh yang terdiri dari Taruna Tk IV, Tk III dan Tk II. Hal ini diharapkan ikatan keluarga asuh ini dapat menjalin komunikasi antara Taruna senior dan Juniornya apabila ada permasalahan-permasalahan yang dihadapi selama melaksanakan pendidikan di Akademi Kepolisian, dan secara luas bisa diteruskan / dilanjutkan pada saat berdinas nanti bahwa pemilihan Kakak asuh dan adik asuh merupakan acara tradisi yang mempunyai maksud agar lebih menjalin rasa kekeluargaan dan kekerabatan antara Taruna Senior dengan taruna Junior
2.       Pemilihan kakak Asuh dan adek Asuh diharapkan dapat menjadi suatu kegiatan yang positif sehingga dapat mengurangi suatu tindakan-tindakan kekerasan dari Taruna Senior
3.       Dengan diadakannya Tradisi pemilihan Kakak Asuh dan Adek Asuh dapat menimbulkan kepedulian seorang taruna senior kepada Junior dan juga dapt menumbuhkan sikap Respek dan Loyalitas seorang Taruna Junior kepada taruna senior.
Kegiatan ini dilaksanakan pada awal masa pendidikan taruna (Cabhatar), dibawah tanggung jawab Ketua Senat Korps Taruna. Dalam kegiatan ini, taruna senior akan dipertemukan dengan taruna junior sehingga setiap taruna senior mendapatkan satu atau dua orang taruna junior sebagai adik asuh-nya. Kemudian para adik asuh tersebut akan mengikuti nama keluarga asuh yang dimiliki atau sesuai dengan keluarga asuh dari kakak asuhnya langsung.
Saat ini di Akademi Kepolisian, terdapat sekurangnya 23 keluarga asuh dengan jumlah yang tidak sama pada setiap keluarga asuh tersebut. Hubungan antara keluarga asuh ini menciptakan sebuah in-group yang secara langsung memberikan pengaruh kepada taruna yang menjadi bagian dari in-group tersebut. (https://ferli1982.wordpress.com/2012/05/29/hubungan-keluarga-asuh-taruna-akademi-kepolisian-sebagai-upaya-meningkatkan-kualitas-pengasuhan-melalui-optimalisasi-peran-kakak-asuh-taruna/).

          Kami tertawa terbahak-bahak melihat foto kami jaman sma, semua nampak culun. Kesel juga sih kena bully-an ke tiga sahabat laki-lakiku yang seorangnya adalah kekasihku. Aku memandangi wajah Kenn yang selalu aku rindukan selama hampir setahun ini. dan kami bisa bertemu lagi ketika nanti lebaran 3 bulan lagi, setelah pelantikan bang Bagus tentunya. Alhasil aku membuat reminder untuk bertemu dengan Kenn bulan depan, ditanggal 28 Mei 2013. Tepat di 4 tahun kami berpacaran, dihari ulang tahun Kenn, di nomor punggung Kenn dan diangka 28 kesekian kami bersama. Ya walaupun tetap ketemunya masuk diawal Juni, karena weekendnya gak pas. 1 juni adalah sabtu huh!.
          “sayang ini buat kamu” kataku memecah obrolan kami
          “apa ini?” tanya Kenn
          “buka aja”
          “kita mana???” tanya Reza.
          “ini buat kalian berdua” kataku.
          Jam tangan Q&Q berwarna hitam dengan behel berwarna merah sudah dipakai Kenn, sedangkan hadiah untuk Reza dan Abu jam tangan Q&Q berwarna abu-abu.
          “semoga kalian seneng yah, ini hadiah persahabatan kita, aku Cuma bisa beliin itu dari hasil aku kerja di mcd berbulan bulan ini”
          “hmmmmm....” keheningan tercipta diantara kami, air mataku mengalir turun, disambut pelukan Kenn, disusul Abu dan Reza, jadilah kami berempat menangis bersama.
          “setelah kalian pendidikan, aku bener-bener kangen banget, jadi aku serius kerja partime buat nyari uang buat kesini, demi kalian” kataku lirih.
          “jangan nangis Raaaaaaa, nanti kalo saya sudah selesai pendidikan, saya bakal balas ini ya!” kata Reza
          “selamanya kita sahabat, kamu dan Nina harus baik-baik di Bandung” kata Abu.
          “iyah” jawabku.
          Stasiun Semarang Tawang, malam ini membuat hatiku meringis sedih, pulang ke Bandung seorang diri dan tidak bisa mendapat kabar dari Kenn sampai sabtu selanjutnya.
          Kami berpelukan berempat, difoto bang Bagus, katanya kami sahabat yang akan selalu bersama kelak. Aku memeluk sahabatku satu persatu, memeluk hangat kakak asuhku, dan memeluk erat kekasihku Kenn. berharap ini bukan terakhir kalinya kami bertemu. Setelah pencocokan tiket dan ktp, aku melangkah masuk kearea peron, aku menengok kebelakang, melihat Kennardi yang terdiam dengan gagahnya. Dia orang yang akan aku rindukan lagi sampai semua LDR ini selesai.
          “aku sayang kalian” kataku berteriak di pintu gerbong, melihat mereka berempat di pintu masuk peron dengan bangga.
          Kereta ini membawaku kembali ke Bandung, jaket akademi kepolisian berwarna kuning milik kenn ada ditanganku kini, karena kata bang Bagus, jaket kuning ini untukku, jaket bang Bagus buat Kenn sebagai pengganti.

......................................................................................................................................       
“aku sayang kalian” teriakan kekasihku masih terngiang ditelingaku, saya melihat kakaku sekilas, dia menguatkan agar saya bisa kuat.
          Sekejap kesedihan menyelimuti saya lagi, saya entah kapan bisa berbicara dengan Tiara lagi, tidak tahu kapan bisa memeluknya hangat, kapan bisa memegang tangannya lagi.
          “saya akan kuat bang” gumamku pelan.
          “jadilah abang yang dulu dan sekarang kalian bertiga, sudah jangan sedih, nanti didepan kita turun, bis masuk akpol nunggu disana, kalian harus ingat titik penjemputannya dan jam berapa ya! Paham”
          “siap bang”
............................................................................................................................................
Aku hanya pergi ’tuk sementara
Bukan ’tuk meninggalkanmu selamanya
Aku pasti ’kan kembali pada dirimu
Tapi kau jangan nakal
Aku pasti kembali






BAB 4

Januari 2017.

          Seperti biasa agenda Morning briefing pagi ini menjadi seakan menjadi agenda pekerjaan ku sebagai supervisor front office disalah satu hotel berbintang di Kota Bandung, tanpa ada komplain hari kemarin. Dan aman!. Aku memulai pagiku dengan sebotol milktea dan roti cokelat diruangan kecilku, ketika seorang Cathy memanggilku.
          “Ra, lunch nanti siang kita makan di kfc ya, bosen makan di ruang makan mulu deh.”
          “ayok aja sih, aku juga bosen”
          Waktu bergulir dengan lambat, aku mengecek jadwal cek in dan cek out hari ini, memastikan room available untuk di jual hari ini sesuai dengan jumlah tamu yang akan cek in hari ini. aku membuka beberapa file booking reservation, memastikan semua nama calon tamu sudah masuk kedalam data di komputer, dan memastikan mereka semua masuk dalam kamar yang sesuai dengan pilihan mereka, jadi ketika mereka datang tinggal rubah status dan isi data ktp nya aja, biar cepet.
          Mengecek occupancy room hari ini, memandingkan dengan sister company kami dan menanyakan roomrate hotel sebelah hotel kami adalah kegiatan kedua ku hari ini. room occupancy/hotel occupancy yang artinya kurang lebih adalah tingkat hunian kamar hotel.
Tingkat hunian kamar dinyatakan dalam persentase dari perbandingan kamar terjual dibandingkan dengan total seluruh kamar hotel yang available atau total jumlah seluruh kamar yang bisa dijual.
Dalam hal ini, kamar yang dijadikan sebagai bahan perbandingan bukan diambil dari total jumlah kamar yang ada di hotel tersebut. Sebab terkadang terdapat beberapa kamar hotel yang tidak bisa digunakan oleh karena dalam kondisi rusak atau dalam perbaikan, maupun karena alasan teknis lainnya.
“halo selamat pagi, mbak mau tanya Occupancy room hari ini berapa ya? Sama room avail nya deh kalo boleh” ketika telepon ku tersambung pada seseorang di sebrang sana yang bernama mbak Anggita, seseorang yang paling aku benci.
Aku merindukan Kenn lagi hari ini. dia teramat dalam masuk dalam hati ini.

......................................................................................................................................
         


“komandan, selamat pagi” sapa Briptu Iwan.
          “pagi Wan, eh Wan nanti kalo kapolres tanya saya, kalo saya gak ada diruangan, saya di satlantas ya” jawab saya.
          Ini hari ke 20 saya bekerja sebagai kepala sentra pelayanan kepolisian polres Bandung. Ruangan saya memang tidak begitu besar, tapi lumayan untuk bersantai sejenak.

Kennardi      : ijin kasuh, 10.2 ? (menanyakan posisi)
Bagus           : Mabes Ken, taruna (berita?)
Kennardi      : jumat malam makan bang, saya mau traktir hehehe.
Bagus           : oke, carikan abang tempat nginap dong di Bandung hehehe.
Kennardi      : siap bang, saya carikan hari ini ya Bang.
Bagus          : gak usah mahal adikku, yang murah saja, asik ditraktir perwira hehe..
Kennardi      : Alhamdulillah bang akhirnya jadi polisi juga hahahha.. JJJ

          “wan hotel yang bagus dibandung dimana ya?” tanya saya
          “murah apa mahal komandan?”
          “sedang aja hahahah!!” jawabku asal.
          “hotel 102 aja komandan didago, hotel bintang 4, tapi murah komandan,untuk berapa orang ndan?”
          “untuk senior saya nih. Seorang dia aja”
          “102 aja ndan, bagus kook itu”
          “oke”
          Saya membuka info hotel 102 yang dimaksud Iwan, banyak pilihan kamarnya juga, dan dekat dengan kota, jadi mudah saya ajak bang Bagus kemana-mana. Bang Bagus baru naik pangkat menjadi IPTU beberapa hari yang lalu, dia bukan sekedar abang asuh, lebih seperti kakak kandung, beberapa kali ketika saya taruna, bang Bagus menginap dirumah saya di Bandung, membantu orang tua saya berjualan nasi, saya sudah melarangnya terkadang, tapi beliau selalu bilang, bakti anak dek.
          Bang Bagus memang panutan saya sampai sekarang, walau dia berdinas di Mabes, setiap weekend kami selalu meluangkan waktu bersama, kebetulan saya penempatan di Polda Jawa Barat dan beliau di Polda Metro Jaya, jarak yang dekat antara Bandung dan Jakarta. Saya masih ingat betul ketika bang Bagus resmi dilantik dan mengawali karirnya di Jakarta, beliau selalu menyempatkan waktu menjenguk ibu saya,mengajak ibu berjalan-jalan. Bang Bagus sudah tidak memiliki kedua orang tua, itu saya ketahui ketika pelantikan usai, bang Bagus bercerita tinggal bersama Om dan tantenya, yang merawat dia selama menjadi Taruna, ayahnya wafat ketika bang Bagus tingkat 3 dan ibunya ketika Tingkat 4, sebulan setelah wafat ayah saya. Itulah alasan Bang Bagus menjadikan ibu saya sebagai ibunua juga, agar ibu saya ada yang menjaga dan agar saya tetap konsentrasi di tingkat tersulit saya waktu itu.
          “ONE O TWO hotel, this Tiara speaking How May i Assist you” suara diseberang sana terdengar sangat menyejukkan hati, dan saya sangat mengenal suara yang sudah 3 tahun tidak saya dengarkan.
          “Helo Miss, saya Romeo” kata saya mengganti nama.
          “halo pak Romeo, ada yang bisa kami bantu?” tanyanya lembut dengan penuh kewibawaan.
          “kalo untuk weekend ini, jumat sabtu minggu ada room kosong ga?”
          “untuk room apa pak? Kami ada standar deluxe room, junior suite room, suite room pak, ingin yang mana pak?”
          “bisa dijelasin fasilitasnya?”
          “bisa pak Romeo, untuk standar room,seperti biasa pak, ac,tv kabel, kamar mandi standing shoower, tempat tidurnya single, kalo deluxe tempat tidurnya king size pak, kalo junior suite ini perbedaan dikamar mandinya pak, ada bathtub nya, kalo untuk suite room, ini ada ruang tamunya pak”
          Otakku memutar keras mencari alasan agar bisa mendengarkan suaranya Tiara. Ya saya yakin dia adalah Tiara yang lama menghilang. Tiara yang saya rindukan.
          “kalo untuk junior suite berapa tarifnya?”
          “untuk semalam, 1.200.000 ribu rupiah pak”
          “kalo deluxe?”
          “750.000”
          “yasudah deluxe saja deh mbak, atas nama bapak Bagus ya, nomor teleponnya 081234567890 atas nama saya romeo, soalnya ini bos saya yang nginap nanti. Jadi kalo ada apa-apa telepon saya saja” perintahku.
          “baik pak, oiya pak ini untuk 3 hari ya?”
          “iya.”
          Ini kesempatan yang tidak disengaja, saya berusaha mencari Tiara, tapi tidak pernah berhasil, setelah Nina bekerja di Bali, saya justru makin kehilangan jejak Tiara dan keluarganya.
          “Saya mendapatkan kamu Tiara! Jangan pergi lagi untuk kali ini” kataku mantap.

.......................................................................................................................................
TIARA       
Motorku melaju disekitaran Dago Bandung, rasanya ingin cepat pulang kerumah, dan mengistirahatkan kondisi badan yang kurang enak. Jalanan Bandung sore ini masih seperti biasa, ramai sekali, untung rumahku sudah pindah ke daerah Jalan Patrakomala, jadi gak butuh waktu lama untuk sampai dirumah.
Setelah makan obat dan bubur ayam yang dibeli dijalan, aku memasuki kamarku dilantai 2, kamar yang berbeda, kini aku mempunyai rumah, bukan mengontrak lagi, walaupun rumah ini engga besar seperti rumah sahabat-sahabatku, setidaknya aku sangat bersyukur engga harus perpanjang kontrak rumah lagi.
Disudut meja belajarku, ada foto yang masih aku simpan sampai sekarang, foto Kennardi. Jujur. Aku masih sayang dia. Sangat mencintainya, tidak ada alasan membencinya. Tidak ada alasan untuk bohong kalau gak mikirin dia.
Perlahan aku memegang figura itu, menempelkannya didadaku, sambil tiduran, menatap foto itu lekat, dan menangis tersedu.































BAB 5

Honolulu, Hawai’i 2017

          Aku menikmati segelas fruit tropical di barefoot beach cafe daerah Waikiki Beach, yang berjarak sekitar 10KM dari kampusku di daerah Manoa, aku merindukan 5 sahabatku, terutama Tiara, udah beberapa bulan ini dia bagaikan lenyap ditelan bumi, dia menghilang dalam sekejap mata, rumahnya pun sudah pindah, dan gak ada yang tau kepindahannya. Terakhir kami bertemu sekitar pertengahan tahun kemarin ketika pelantikan Abu, Reza dan Kenn di Akademi Militer, itupun Tiara enggan bertemu dengan Kenn, dia hanya memberikan selamat kepada Abu dan Reza, ya bertemu Kenn sih sebenarnya, itupun setelah dipaksa Nina. Padahal masih siang waktu itu, dia langsung lenyap ditelan bumi, semua kontak line, bbm, telepon kami, dia block, facebook, path dan instagram dia deactived. Tiara yang menghilang sejak saat itu, membuat kami semua kelimpungan, termasuk kantornya di daerah Senayan City pun enggak tau pindah kemana Tiara setelah mengajukan resign.
          Persahabatan aku dan Tiara diawali ketika kami duduk di bangku sd, dari sana kami seakan gak pernah lepas, bahkan smp dan sma pun kami sekelas lagi, sampai akhirnya ketemu Nina, cewe yang kecil mungil tapi jago olahraga. Jadilah kami bertiga sahabat. Kalo tentang 3 cowo itu, sebenernya mereka itu temen kerja kelompok awalnya, Sering kerja kelompok bareng membuat kami bersahabat terus sampai detik ini, tapi semua seakan berubah, Tiara menghilang, menghilangkan sebuah pilar persahabatan kami ber 6.
          “hai!, sendirian aja” seseorang menyapaku, dengan sebutir kelapa muda ditangannya.
          “hai Bayu” jawabku.
          “aahhh gua rindu Indonesia, pengen pulang kampung, tapi duitnya belom cukup” keluh Bayu
          “sama Bay,gue jugaaaaaaaaa” kataku ga kalah menyerah.
          Ini tahun ke 5 ku di Hawai’i, dan selama itu aku baru pulang 2 kali. Menjadi mahasiwa di kepulauan Hawai’i sangat jarang dilakukan oleh mahasiswa indonesia, mereka lebih memilih Newyork, atau Kansas sebagai tempat pendidikannya. Kadang aku merasa asing berada disini, bagaimana engga, Hawaii terlepas dari benua Amerika, tapi masih masuk negara ini sih beruntungnya. Hawaii termasuk kedalam oceania, yaitu istilah yang mengacu kepada suatu wilayah geografis atau geopolitis yang terdiri dari sejumlah kepulauan yang terletak di Samudra Pasifik dan sekitarnya. Oseania merupakan wilayah di Bumi (sering dianggap benua) dengan luas area daratan terkecil dan jumlah populasi terkecil kedua setelah Antartika.
          Hawaii sendiri Saat ditemukan, Hawaii masih berupa kerajaan yang berturut-turut diperintah oleh raja Kamehameha I hingga Kamehameha IV lalu dilanjutkan oleh Lunailo, Kalakaua, dan pemimpin terakhir adalah Liliuokalani. Setelah ditemukan oleh AS pada tahun 1900, kepulauan ini dikuasai dan disahkan sebagai negara bagian Amerika Serikat ke-50, pada tanggal 21 Agustus 1959. Hawaii merupakan salah satu pulau wisata paling terkenal di dunia, potensi keindahan alam serta wisata bahari yang sangat unik membuat Hawaii dikenal hampir seluruh pelosok dunia. Salah satu tokoh terkenal asal Hawaii adalah Duke Kahanamoku, yang merupakan penemu olah raga selancar (wikipedia hawaii). Jadi kamekameha sebenernya bukan kekuatan dari Goku!, dia nama raja di Hawai’i dan ketika baru tau tentang itu, aku langsung paham, kenapa goku alias dragon ball, shooting di pantai terus, mirip film arale, dan ternyata lokasi shooting mereka di Hawai’i.
          Aku berjalan menyusuri jalan Kalele Rd. Menuju rumah kecilku selama tinggal di Hawai’i. Dikawasan Kalei Rd, gerah banget Hawai’i menjelang malam membuatku pengen mandi lagi dan lagi.

Nina   : Guys gue kangen. Selamat tidur ya.
Reza  : gue lo? Hahaha! Btw saya lagi bete nih, masih di polda ga bisa pulang, Jawa Barat sama Jawa tengah aman?
Abu    : Jawa Tengah masih masuk dalam pulau Jawa tenang aja hahaha..
Nina   : Tiara udah ketemu?
Kenn   : sudah saya temukan J mohon doanya.

          Ketika baca itu, aku memutuskan untuk melakukan video call confrence. Penasaran dengan tingkat kekepoan udah level 100.

          “HALO GENG!” kataku ketika telepon tersambung
          “jadi Kenn, ketemu Tiara dimana?” tambahku.
          “Iya Kenn, ga cerita nih” Kata Nina.
          “loh baru tadi siang kok saya ga sengaja tau kantor dia, Cuma saya belom mau cerita deh, takut salah orang, mau mastiin dulu bener apa bukan besok hahaha”
         
          Perbedaan waktu 17 jam harus membuat kami berlima pintar membagi waktu cerita, keunggulan Indonesialah, yang selalu membuat waktu saya terganggu dengan gossip mereka semua. Tapi saya sangat merindukan ini, terkadang saya membagi foto matahari terbenam di Honolulu Beach, dan matahari terbit di atas bukit sekitara Manoa, segala sudut memandang hanyalah lautan dari pandangan indah matahari.
          Aku melihat wajah Kennardi yang tersenyum, dia sungguh berbeda, mukanya tampak bahagia kali ini, semoga kekasih hatinya cepat kembali. Aku sangat merindukan Tiara yang menghilang, aku ga bisa menjaga hatinya yang bertahun-tahun mengalami sakit yang teramat dalam, dia menyimpannya sendirian, tanpa aku disana, Nina memang berada disana, tapi Nina tidak terlalu dewasa dalam tindakan, dia sangat abg.
          Rumahku menghadap ke lautan dibawah sana, remang lampu dari bukit di sekitaran Manoa, memantul dengan indah dilautan. Aku melepas jilbabku perlahan, sampai akhirnya sebuah chatting masuk.


Reza  : selamat tidur yah J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar