Lebih baik kita usai di
sini
Sebelum cerita indah
tergantikan pahitnya sakit hati
Bukannya aku mudah
menyerah, tapi bijaksana
Mengerti kapan harus
berhenti
Ku kan menunggu tapi
tak selamanya
SATU
Selamanya kita akan bersama.
Takkan ada keraguan kini dan nanti. Percayalah
(percayalah : Afgan & Raisa)
6
tahun yang lalu
“sayang.
Aku mau masuk Akademi Kepolisian” Kata Kenn.
“Akademi
apa itu?” jawabku.
“sekolah
khusus buat jadi calon perwira polisi, jadi taruna polisi gitu”
“kayak
pacarnya Nina?” tanyaku.
“kalo
itu bintara polisi yang, pangkatnya beda, sekolah nya Cuma 7 bulan, jadi minggu
depan aku udah mulai tes, aku Cuma berharap selama aku berjuang kamu selalu ada
di sisi aku yah, sampai aku sukses, kamu jangan pernah pergi ninggalin aku ya”
jawab Kenn menjelaskan.
Sekolah
kami sudah ramai dengan lalu lalang siswa kelas 10 dan 11, sedangkan nasib kami
sebagai siswa kelas 12 hanya menunggu hitungan minggu menunggu hasil ujian
nasional.
Aku
duduk di depan kelas, bersama Kenn, hanya berdua. Wajahnya yang sedikit agak
arab asia gitu, (dibilang arab banget engga juga sih,mirip bule justru, mungkin
agak agak mirip Hamish Daud lah) selalu aku rindukan, kepalanya yang selalu
dipotong model cepak, perawakan tinggi dengan badan yang lumayan bidang selalu
menjadi sandaranku ketika sedih maupun senang, dia yang selalu menjadi orang
ketiga setelah kakaku dan ayah sebagai superhero-ku.
“kamu
kok ngelamun?” tanya Kenn.
“aku
masih ga ngerti tentang Akademi Kepolisian, makannya ga kebayang” Jawabku asal.
“nanti
aku ajarin kamu tentang Akpol itu apa ya” kata Kenn.
“sekolahnya
dimana? Lama ga?” tanyaku.
“di
Semarang Jawa Tengah, cuman 4 tahun kok. Kamu mau nunggu aku pulang kan?” tanya
Kenn.
“tapi
kita bisa sms dan telponan kan?” tanyaku lagi.
“Cuma
weekend aja sayang, namanya pesiar” jawab Kenn ringan.
Karena
keterbatasan aku tentang Akpol itulah aku hanya merasa bahwa hubungan kami akan
bertahan akan sebuah landasan kesetiaan semata. Aku belum bisa membayangkan hal
hal yang mengerikan tentang hubungan kami nanti, aku memilih untuk kuliah di
Universitas Padjajadjaran Jatinangor, ketimbang harus masuk Akademi Kepolisian,
karena aku berfikir bahwa Akpol pasti ujung-ujungnya Cuma jadi polisi doang,
yang aku ngerti sih polisi yang kerja di lalu lintas dan aku masih gaptek
tentang kinerja polisi lebih jauh.
“aku
dukung kamu masuk kemana aja Kenn, selama itu baik” jawabku meyakinkan.
Kami
berjalan menyusuri koridor SMAN 5 Bandung. Sma paling favorit di Kota Bandung,
sekolah kami bersatu dengan SMAN 3 Bandung, bangunan sekolah kami yang masih
berbau jaman belanda kadang bikin merinding dan pengen cepet selesai dari
sekolah ini, tapi kini justru aku ingin bertahan disini, belum membayangkan
berpisah dengan sahabat-sahabat aku.
“Tiaaaaraaaaa”
seseorang memanggilku dari belakang.
“Ninaaaaa!!”
sapaku sedikit berlari
“aku
keterima di ITB looohhhh” kata Nina.
“yaaa
kita jauh dong nanti ga bisa ketemu, aku di Jatinangor, kamu di Bandung”
kataku.
“jarak
Nangor ke Bandung Cuma sejam kali ah ga usah lebay” jawab Nina semangat.
Kami
duduk di bangku kantin, aku, Kenn dan Nina sahabatku. Kami berbincang tentang
cita-cita kami bertiga, sebenarnya kami satu geng ber 6, aku, Kenn, Nina, Abu,
Laras dan Reza. Aku dan Tiara memilih untuk kuliah di Bandung, sedangkan Laras,
mendapat beasiswa kuliah di Hawai’i, Reza dan Abu memilih untuk masuk Ke TNI,
kadang aku ga abis pikir, mereka ga mau menikmati masa muda gitu ya.
“hoi
semua! Hahaha” teriak Reza memecah tawa kami bertiga.
“za!
Gimana? Udah daftar? Jadinya masuk Akmil apa Akpol?” Tanya Kenn
“AKPOL!
Noh si Abu masih pengen Akmil, ya semoga kita masuk deh” Jawab Reza
Aku
hanya kebingungan sendiri, apa lagi itu Akmil yang mereka maksud. Aku
benar-benar awam dengan dunia ini, seakan aku memang beneran alien yang lahir
didunia.
Menghabiskan
waktu dengan ngobrol ngalor-ngidul bikin waktu gak kerasa kelewat jauh, hari
ini Laras dan Abu gak dateng kesekolah, jadilah kami ber-empat memutuskan untuk
pergi ke Bandung Indah Plaza yang letaknya memang gak begitu jauh dari sekolah,
cukup jalan kaki bisa sampai. Tanpa kendaraan. Itulah janji kami ber-6
menikmati beberapa hari kedepan sebelum akhirnya berpisah satu sama lain
nantinya, kami harus bisa memanfaatkan waktu bersama ini dengan sebaik-baiknya.
“makan
apa nonton?” tanya Reza.
“nonton
aja yuk, daritadi dikantin nyemil mulu kenyang” jawab Nina.
“yaudah
nonton apa?” tanya Kenn.
“apa
aja deh yang penting nonton yaaaaa” kata Nina semangat.
Aku
memperhatikan punggung Kenn yang berjalan di depanku, perlahan aku merasakan
kesedihan ini, kami ber-6 yang dari kelas 10 bersama-sama hingga akhirnya kami
akan berpisah satu sama lain, terutama aku dan Kenn. aku menatap sudut bibir
Kenn yang tersenyum senang, aku akan merindukan wajahnya yang aku usap pelan,
genggaman tangannya yang menuntunku menyebrang jalan didepan sekolah, berjalan
beriringan bersamanya, olahraga bersama walaupun aku memang lemah dengan
olahraga. Perlahan aku memengan jemari Kenn yang kini berjalan disisiku, Kenn
menatapku dengan penuh perhatian, seakan dia mengerti bahwa kami akan baik-baik
saja nanti.
“kamu
kenapa?” Tanya Kenn.
“kamu
jangan ke Akpol ya” kataku asal.
“buat
masa depan kita nanti” Jawab Kenn.
.......................................................................................................................................
Aku
selalu menemani Kenn tes, menikmati panas menyengat Bandung disiang hari dan
dingin Bandung di Malam hari, entah berapa lama waktu yang selalu aku buang
untuk menemani Kenn dan Reza tes masuk Polri, terkadang mereka sibuk sendiri,
mengurus beberapa berkas yang hampir membuat mereka menyerah, aku melihatnya
aja udah meringis, berkasnya banyak banget.
Terkadang
kami bertiga pake mobil orang tuanya Reza, kadang pake motor masing-masing,
kadang aku dibonceng, ini mungkin yang namanya membuang masa muda untuk sukses.
Hari
kelulusan pun sudah tiba, kami semua lulus dengan nilai sangat baik, hasil les
di Ganesha Operation senin rabu, les primagama selasa kamis, dan les di rumah
hari jumat, bukan karena sok pintar, tapi sekolah disini, bukan hanya gaya,
kualitas otak kami menjadi bahan taruhan ke gengsian kami semua.
“Aku,
Kenn dan Abu lolos tingkat daerah, minggu depan kami berangkat ke pusat, selama
dua minggu” pecah Reza ditengah keheningan dan tangis kami ber-6.
“Laras,
kamu kapan berangkat?” tanyaku.
“bulan
depan aku udah berangkat ke Newyork, 3 bulan aku intensive bahasa disana, kamu
dan Nina gimana?” Jawab Laras.
“kita
september mulai kuliah,jadi beberapa waktu kedepan palingan mau nyari kerjaan
partime gitu sih” jawab Nina.
Aku
memeluk sahabatku satu persatu, menangis bersama, termasuk 3 cowo gagah
depanku, merekapun menangis.
Aku
berjalan bersama Kenn, menikmati waktu kami yang tersisa hanya sebentar, kenn
bilang tes pusat akan memakan waktu 2 mingguan lebih, dia gak boleh pegang hp
sama sekali, setelah itu kalau lolos, dia akan pendidikan langsung dan tidak
memegang hp selama 3 bulan lebih, tanpa komunikasi dengan siapapun katanya,
perlahan aku sudah mulai memahami apa itu taruna, apa itu akpol bagaimana pendidikannya,
dan bagaimana kami akan menjalani hubungan ini kedepannya.
“kamu
jangan khawatir ya sayang, Kenn sayang kamu” kata Kenn penuh percaya diri,
walaupun wajahnya menyimpan 1001 kekhawatiran.
“jangan
khawatirin aku, aku tetap di Bandung nunggu kamu pulang” Kataku meyakinkan.
....................................................................................................................................
“MABA!
TUNDUK!” teriakan seniorku sangat keras dibelakang kepalaku
“GLEG!”
aku seakan merasakan degup jantung yang berhenti sejenak beberapa saat.
Ini
hari ke 7 ospekku di Universitas Padjajadjaran, sebelum akhirnya aku resmi
menjadi mahasiswa baru tingkat pertama semester pertama. Fakultas Ilmu
Komunikasi, fakultas paling bergengsi di Unpad setelah kedokteran dan fisip.
Aku
melangkah perlahan melewati gedung 2 menuju kantin Fakultas, sepanjang jalan
aku mendapatkan lirikan ketus dari senior yang mukanya ditutup, agar tidak
terlihat siapa mereka, name tag besar, tas besar, rambut dikuncir, rok panjang,
dan keringat mengucur bebas diatara pelipis mata, aku lelah dengan kegiatan
ini.
Dan
semua menghitam.
.....................................................................................................................................
KENNARDI.
“SELAMAT PAGI” teriakku.
“KAMU
KURANG KERAS!” Pelatih membentakku sekali lagi.
Saya
merasa muak dengan keadaan ini, tapi inilah masa depan yang saya pilih. Selama
3 bulan ini saya dituntut harus siap dalam segala fisik dan mental walau kadang
jiwa dan hati tidak bersatu dengan baik, tapi mau tidak mau harus saya jalani.
“tiara”
kataku dalam hati.
.....................................................................................................................................
REZA.
“SELAMAT PAGI!”
Saya
melihat dengan mata kepala saya bagaimana Kenn berteriak dengan tangan yang
bergetar hebat, ini masih pagi, saya tidak tahu jam berapa sekarang, kami
seakan tidak tahu jam, yang kami tahu hanya waktu solat saja, tapi saya sangat
senang bisa masuk pendidikan dasar sebagai taruna. Tidak jarang melihat
Kennardi menangis di malam hari, bagaimana tidak, beberapa waktu yang lalu dia
harus kehilangan ayahnya yang wafat, dia disini bersama saya dan Abu, ya pada
awalnya Abu ingin masuk Akmil tapi Allah berkehendak lain, dia justru masuk
disini bersama saya dan Kenn. dan janji seorang sahabat adalah tidak akan
meninggalkan sahabatnya yang terluka. Beberapa saat yang lalu Kenn hampir
menyerah dan ingin kembali ke rumah, tapi Abu selalu bilang, kita disini adalah
cita-cita kamu tidak sendiri, saya dan Reza sahabat kamu dari smp. Abu yang
selalu menguatkan Kenn dalam segala tindakan gegabah dan bodohnya.
Ini
adalah bulan oktober 2012. Bulan dimana kami akan bertemu dengan keluarga kami
untuk pertama kalinya dalam wisuda tingkat satu, dan resmi menyandang pangkat
Bharadatar, pangkat bentuk roket,
.....................................................................................................................................
LARAS.
“ayaasss!!!”
teriak Nina ketika video call kami tersambung
“Kangeeeennn
kaliaannn” jawabku penuh haru.
“samaaaa..
gimana newyork? Seru ya???” tanya Nina.
“banget!
Kamu ga ospek?”
“ITB
gak ada ospek taun ini hahaha, Tiara tuh lagi jadi mahasiswa baru yang hak
asasinya di tindas senior”
“kasian
ya, kemaren dia bbm, baru tidur jam 1 dan jam 4 udah kekampus.”
Grup
bbm kami sekarang sepi, bapak bapak polisi lagi pada pendidikan, aku dan Nina
doangan yang masih selalu kabar-kabaran setiap detik dengan bbman secara
pribadi takut ganggu yang lain. New york! Kota pertama yang aku datangi ketika
melangkah di Amerika untuk pertama kalinya, awal tahun depan aku resmi menjadi
mahasiswi Univerity Of Hawai’i, Manoa. Universitas
ini masih masuk wilayah Honolulu, ibaratnya kabupaten mungkin ya, kenapa aku
pengen kuliah disini? Karena aku sangat cinta laut dan pengen setiap hari
memandang lautan dari tempatku sekolah, dan Honolulu Hawaii lah pilihanku.
ALOHA !!
DUA
Akademi kepolisian Tingkat 1
AWAL TAHUN 2013
“gimana Kennardi?” Abu memecah
keheningan.
“apanya
yang gimana?” tanyaku pelan.
“kamu
udah setaun loh ga ketemu Tiara, suruh lah dia sama Nina kesini, kita kumpul
berlima” jawab Abu.
“udah
kok, dia mau kesini minggu depan tapi Nina ga ikut, tapi masih ngeri nih kalo
ketahuan senior, malu aja, masih junior bau kencur gini udah berani bawa
rekanita ke Semarang” jawabku asal, sekaligus mendapatkan anggukan mengerti
dari kedua sahabatku, Abu dan Reza.
Ini
adalah tingkat 1 akhir kami, pangkat masih bharatutar (Bhayangkara Satu Taruna)
pangkat saya yang tadinya seperti roket (V kebalik) melesat ketika bharadutar
(bhayangkara dua Taruna) sekarang sudah mempunyai landasan dibawahnya semester
ini saya rasa cukup melelahkan, sebagai junior, saya masih harus menyesuaikan segala
bentuk pengasuhan, saya harus banyak belajar bagaimana menjadi junior akademi
kepolisian yang taat dengan aturan.
Semester
saya di Bharatutar terbagi menjadi 2 semester dalam setahun penuh. Rasanya
menjadi senior itu masih lama sekali menurut saya. Seperti akhir tahun kemarin,
saya masih bharadatar, cuti saya dihabiskan dengan kumpul keluarga Korps Kehed,
Korps yang berasal dari Jawa Barat, tidak ada waktu bersama keluarga kandung,
tidak ada bertemu dengan Tiara yang lama, hanya sebentar, tidak ada waktu
beristirahat, terlebih saya ingin mengunjungi pusara ayah sayapun sulit.
Saya
masih sibuk mengelap sepatu boots hitam saya, menggosok hingga mengkilap,
sesekali menyingkap baju dinas lapangan di bagian tangan, tangan saya masih
lecet dibagian sikut karena hasil merayap dilapangan beberapa hari yang lalu.
Begitupun lutut saya, masih lecet-lecet, rasanya perih.
Kaki
kami melangkah menuju tempat makan taruna, saya masih kesulitan menghapal
nama-nama senior saya, yang tidak jarang mendapatkan hukuman yang bikin hidup
saya seakan dapat kiamat sugro, seperti
tadi pagi, ketika bertemu dengan senior tingkat 3 (brigtutar : brigadir
satu taruna) senior itu memanggil nama saya sembari menutup nama di dada
kanannya, mengetes ke apatisan saya harus mengenalnya lebih jauh dari saat ini,
walaupun tidak mendapatkan hukuman apapun, tapi sebagai junior saya merasa malu
dan merasa kiamat sugro.
Masuk
ruang makan, saya berpisah dengan Abu dan Reza, saya mencari abang yang saya
temui tadi pagi dan saya sudah tahu namanya siapa, dan saya harus memberikan
nilai respek tinggi terhadapnya. Dan berharap abang itulah abang saya dalam
keluarga asuh saya kelak.
“SELAMAT
SIANG!” sapa saya. Sambil memberi hormat.
“SIAPA
NAMA SAYA?!”
“SIAP!
BRIGADIR SATU TARUNA TUBAGUS ADHI RAMADHAN!” jawab saya tegas
“DUDUK”
“SIAP
TERIMAKASIH!”
Beberapa
saat kami makan bersama tanpa ada suara dan perbincangan sama sekali, sosok
Bang Bagus lah yang menggetarkan saya tadi pagi. Tidak ada tindakan apapun yang
dia berikan kepada saya, akan saya contoh.
Tidak
terasa pangkat roket saya sudah berubah mempunyai ekor. Dengan dua garis yang
sangat menyenangkan, beberapa saat makan siang saya terganggu, saya merindukan
ibu dan alm. Ayah saya, biasanya makan siang kami bersama-sama dirumah, kini
semua seakan berbeda. Ayah saya hanya pensiunan pns, dan kini ibu saya hanya
berjualan makanan di rumah makan sederhana milik keluarga kami. Sesaat saya
merasa air mata saya penuh, dengan sekali kedipan berhasil jatuh dipipi,
secepat kilat saya mengelap air mata yang mulai turun, ibarat wiper, dia terus
mengalir dan tangan saya langsung mengelapnya.
“kenapa
kamu?” tanya bang Bagus
“siap
bang, kelilipan bang.”
“jangan
bohong kamu, kalau sedih cerita sama saya nanti”
“siap”
jawab saya pelan.
Hati
saya berdegup tidak menentu, hidung saya masih mengatur nafasnya perlahan
dengan sesekali isakan. Entah apa yang saya lakukan siang ini, didepan para
senior saya, malu. Makanan seakan tertahan di tenggorokan tanpa bisa ditelan.
Saya
benar-benar merindukan orang tua saya, ingatan saya melambung dalam beberapa
bulan yang lalu, setelah saya diterima di akpol, saya harus mendapat kabar
orang tua saya wafat, terkena serangan jantung, saya menyesali diri saya,
mengapa dulu ingin masuk sini, kalaupun saya tidak memilih akpol, mungkin dulu
saya bisa menolong ayah saya dirumah. Malam itu dingin menusuk kami sebagai
prabhatar, saya sedang duduk merebahkan kaki yang sangat sakit menahan lecet
disegala sudut kaki saya, ketika pelatih memanggil saya.
Berjalan
penuh kekhawatiran mengikuti langkah pelatih. Sampai akhirnya kaki kami
berhenti tidak jauh dari seluruh prabhatar.
“Kennardi,
kami berikan kamu waktu pulang ke Bandung 2 hari, setelah itu kamu harus
kembali kesini dan pendidikan lagi, bisa?”
“siap”
jawaban saya dengan penuh pertanyaan, ada apa sebenarnya.
“kami
turut berduka cita, ayahandamu wafat sekitar 1 jam yang lalu, ibumu tadi
menelpon kami, memberi kabar duka, ibumu meminta agar kamu tidak usah pulang,
agar tidak mengganggu konsentrasimu. Tapi saya rasa ini tidak bisa, itu orang
tuamu, saya sudah memutuskan untuk mengantar kamu malam ini ke Bandung dan kita
akan kembali lusa, kamu bisa?”
“siap
bisa” tidak ada kalimat apapun yang keluar.
Saya
masih ingat ketika saya berlarian menenteng tas besar, karena saya tidak punya
koper, mencari kedua orang tua saya setelah sidang pengumuman pusat calon
taruna akpol, kemeja putih dan celana panjang hasil tabungan saya selama ini
menjadi saksi perjuangan itu penuh liku-liku. Saya mencari kedua orang tua saya
untuk berpamitan menempuh pendidikan yang saya impikan, sorot mata itu, sorot
mata ayah yang selalu menjadi panutan saya,beliau tersenyum sembari menangis.
Saya memeluknya erat, beliaulah yang selalu meminjamkan motornya ketika saya
tes, beliau yang selalu memberikan uang jajan dan ongkos untuk saya menjalani
tes. Saya mencium kedua kaki orang tua saya, meminta doa restu dan ijin agar
mampu mengangkat derajat keluarga kami setahap lebih tinggi, membantu ekonomi
keluarga kami kelak.
Berlari
mencari Abu dan Reza adalah pilihan saya saat itu, ditengah gelap malam, saya
mencari sosok Abu yang selalu menjadi penenang saya.
“Bu!”
panggil saya sembari menahan nafas yang ngos-ngosan dengan air mata yang
mengalir.
“Ken?
Ada apa kamu? Kenapa?” jawab Abu yang masih duduk di depan pohon.
“Ayah
saya meninggal Bu!” jawab saya sembari menggigit bibir dengan getaran hebat.
“inalilahi!
Sabar Kenn” bangkit Abu dengan memeluk saya dengan erat, kami berdua menangis.
Malam
itu saya pulang ke Bandung tanpa membawa apapun, saya hanya masih menggunakan
baju lapangan berwarna hijau, dan tidak bertemu dengan Reza untuk mengabarkan
hal ini, ini kepulangan rahasia saya. Tidak ada yang tahu selain Abu.
.......................................................................................................................................
TIARA.
Jatinangor
Semester 1.
Satu
jam setelah ketinggalan bis kota, aku masih jadi alien dipinggir jalan, dengan
teh botol dingin ditangan kiri ku. Mata ku memandang jauh memastikan bis Elang
Jatinangor segera datang untuk mengantarku ke kampusku, dan berharap bis ac lah
yang datang.
Bis
sudah memasuki tol Moh. Toha, sialnya adalah kebagian bis non ac, dan sial
lanjutannya saya duduk di bangku artis, alias bangku besar sebelah supir, kaki
saya bergerak naik turun dan berharap tidak terjatuh ke tangga depan muka aku
dan terlempar ke luar bis, segera aku memegang dashboard besi bis ini, anggap aja ini pesawat ulang alik yang saya
tumpangi untuk kembali ke bulan.
“Kennardi,
kamu lagi apa” tanyaku dalam hati.
Ini bulan
kesekian hubungan kami seakan ada jarak yang sangat besar, ibarat bulan dan
bumi. Jauh sekali. Terlebih kemarin malam adalah hari ke 100 tahlilan Ayahanda
Kenn.
Aku
merindukan Kenn, sangat merindukannya, khawatir dengan keadaan dia, ketika
bertemu pertama kali beberapa bulan yang lalu, ketika pemakaman ayahnya, Kenn
sangat kurus mungkin karena memang pendidikannya yang mengharuskan dia kurus.
Bis
sudah berhenti di gerbang kampus Unpad Nangor, aku tidak perlu repot berlari,
ojek sudah siap di pintu keluar bis.
“Fikom
ya kang, ngebut” perintahku
Aku
kuliah jam 14.30 siang ini dan hanya satu mata kuliah, Ilmu Komunikasi Dasar.
Motor mamang ojek ini menembus riuhnya pohon didepan ITB Jatinangor, yang
dulunya ini adalah kampus Unwim, Universitas Winaya Mukti. Sejuk.
“Tiara.
Tau ga dosennya ga masuk”
“SERIUS
LOOO???” jawabku sedikit teriak.
“aku
udah jauh jauh dari Bandung, panas-panasan, ketinggalan bis, dan gak ada dosen?
Sumpah yah maunya apa sih bapak itu, dia minta pindah siang dan gak dateng, kesel!!”
makiku gak jelas.
“yaudah
sih, ke kosan aku yuk. Aku traktir deh makan nasi gila, es cendol sama lumpiah
basah gimana? Awal bulan”
Kosan
Dita emang bisa dibilang lumayan enak, gak jauh dari gerbang kampus yang
notabene pusat jajanan mahasiswa Unpad, dengan kamar mandi didalam. Lumayan
nyaman untuk kosan murah.
Bayanganku
tertuju kembali kepada seseorang disana, Ken. Apakah dia sudah makan apa belum,
lagi latihan apa engga, kangen aku apa engga, bahkan aku gatau. Kami hanya
berkontak sekitar 1 bulan yang lalu, itupun hanya bertanya kabar tanpa ada
sebuah rindu yang terbalas sempurna, kami hanya berbicara melalui telepon
selama satu jam, sampai akhirnya telepon itu terputus karena dia ada latihan
sore dan sampai detik ini akulah yang berperan dengan penuh kesabaran karena
hubungan yang terhalang bukan hanya dengan jarak tapi dengan waktu.
Pacaran
dengan seorang taruna tingkat 2 engga seenak dengan bayanganku dulu, ternyata
ini makin sulit. Teleponan di kala weekend yang hanya sekali saja itu hampir membuatku
mengambil sikap untuk mengakhiri semuanya. Tapi aku bertahan karena sebuah
janjiku,untuk menunggu dia pulang. Hanya liburan ramadhan lah yang bisa aku
andalkan saat ini, mungkin bisa ada waktu bersama itupun kalo aku ga mudik,
karena pacaran kami di awal tahun kemarin pun terganggu dengan kunjungan dia ke
rumah senior seniornya.
Bis
membawa aku menuju Bandung sudah sampai di persimpangan jalan Kopo, sudah
waktunya turun dan naik angkot jurusan Soreang Leuwipanjang. Sepanjang
perjalanan, aku membuka beberapa fotoku bersama Ken, mulai dari jaman sma,
sampai akhirnya kami berfoto dengan dia yang menggunakan seragam taruna yang
kedodoran. Mukanya hitam kucel dan ga seganteng dulu, tapi masih ada sisa
gantengnya sih dikit.
“kenn
kangen...” desahku perlahan tanpa sadar hati ini meringis sampai menghasilkan
bulir air mata turun.
.....................................................................................................................................
Akademi Kepolisian
“Kennardi!” sapa Bang Bagus di
stadion taruna, sore ini kami tidak ada kegiatan, jadi saya memilih untuk
berolahraga saja.
“siap
bang”
“abang
mau ngobrol” jawab bang Bagus.
Kami
berdua berjalan menuju tangga di stadion taruna akpol, saya mengekor bang bagus
berusaha tidak terlalu jauh dengan jaraknya melangkah. Kaos olahraga berwarna
abu abu bertuliskan taruna dengan celana training kuning dengan garis hitam
pada bagian samping yang digunakan bang Bagus, seolah seperti cerminan saya
saat ini.
“tadi
siang kamu kenapa?” tanya bang Bagus
“siap
bang, saya rindu alm Ayah saya bang”
“abang
sudah dengar cerita kamu tentang wafat ayahmu beberapa bulan yang lalu, abang
paham dengan kejadian seperti itu, abang turut berduka cita”
“Ken,
abang belum pernah ada di posisi sulitmu seperti itu, abang dari Korjak dek
(korps Jakarta), jadi kamu pasti belum mengenal saya, tapi kamu bisa hubungi
saya kalau ada keluh kesah, anggap sajalah saya kakak kamu yah. Jadi taruna itu
memang sulit dek, butuh kesabaran dan keikhlasan disini, walau kadang hati
bertolak belakang tapi ini tanggungjawab kita. Kamu adalah abang dulu, dan
abang sekarang, adalah kamu masa depan. Paham?”
“siap
paham”
“jangan
terlalu diambil pusing, jalani. Kejar terus semuanya dek, kamu punya pacar?”
tanya bang Bagus
“siap
ada bang, namanya Tiara”
“suruh
dia ke Semarang, nanti pesiar minggu depan abang mau pesiar ke pos pesiar, kamu
harus ikut abang, pesiar pertamamu kan?kita pesiar sabtu aja. Jadi bisa makan
malam sekalian dek, nanti abang ajak kamu jalan-jalan lah. Kamu harus makan
enak, terlebih beban mentalmu bertambah akhir-akhir ini, abang kan ga suka liat
adek-adek abang menderita, kasihan. Abang pernah ngerasain seperti itu, rasanya
pengen mati aja tapi susah. Kamu kalo ada apa-apa cari abang di flat. Kennardi
kelak abang ingin kamu seperti abang, pake ini” katanya sambil menunjuk tali
koor yang tersemat dengan gagahnya di dada kanannya.
“kamu
cari tahu, siapa abang, jabatan abang apa, setelah semua kamu hapalkan abang
tunggu kamu di flat” tambahnya.
“siap
bang”
“abang
mau balik dulu, kamu lanjut larinya, ingat! Kamu adalah saya dimasa depan!”
Bang
Bagus meninggalkan saya dengan sejuta kebanggaan, dia tidak banyak berbicara,
hanya memberi sebuah motivasi yang memacu saya untuk bisa menjabat seperti
beliau. Saya akan membayar semua ucapan bang Bagus dengan sebuah kebanggaan
seorang kakak yang melihat adiknya meneruskan kerja kerasnya.
“ini
buat Ayah, Ibu, Kenzi dan kamu Ra” kataku pelan tapi mantap.
Sore
berganti malam, saya berjalan menyusuri flat senior, kamar bang Bagus sudah ada
didepan mata saya kini, perlahan saya mengetuk kamarnya, ini kali pertama saya
berkunjung ke flat anggota senat taruna, terlebih bang Bagus juga seorang stick
master di akademi kepolisian, bisa dibilang artisnya marching band Cendrawasih Akpol. Beliau adalah sosok utama yang
selalu dilihat oleh penonton dalam sebuah parade cendrawasih. Ya senior ku ini
bukan sekedar senior, beliau akan menjadi kakak saya selama disini.
“eh
dek” sapa bang Bagus ketika pintu terbuka.
Dia
baru selesai mandi, mukanya masih sangat segar, badannya sudah terbentuk baik,
otot perut, lengan dan pundaknya sudah sangat “keren” berbeda dengan badan
saya, yang masih dekil, kurus dan ga karuan, rasanya ingin cepat menjadi
senior. Badan saya sekarang engga ada bagus-bagusnya.
BAB 3
2 Maret 2013
Kereta
Harina sudah berhenti di stasiun Tawang Semarang, ini kali pertamanya aku
berangkat ke kota ini seorang diri, matahari belum menampakan dirinya, dan ini
masih jam 5 pagi, aku menikmati perjalan 8 jam menggunakan kereta api membuatku
sedikit jetlag sepanjang perjalanan
membuat saya ketakutan nyasar, ini kali pertamaku ke Semarang, beberapa stasiun
selalu membangunkan ku, aku takut kelewatan stasiun, terlebih aku dan Kenn hanya
berkomunikasi menggunakan sebuah email, tidak ada telepon atau sekedar sms,
hanya sebuah email yang aku terima beberapa hari yang lalu, email yang dia
meminta aku ke Semarang hari ini hingga minggu, walau hanya 2 hari, aku akan
memanfaatkan waktu yang dia sediakan.
Ini bukan sekedar hubungan
jarak jauh, kami harus melawan rasa ego, hanya ada waktu sabtu dan minggu untuk
bisa berbicara lewat telepon. Hanya wanita dengan kekuatan sailormoon yang bisa
bertahan dengan hubungan seperti ini, bayangkan aja, dalam 365 hari setahun
kami hanya bisa ketemu ketika ada longweekend,
libur lebaran, natal dan tahun baru aja. Itupun kalau para taruna engga ada
kegiatan kumpul sama seniornya. Sebenernya aku masih sangat belum paham kapan
Kenn bisa ngasih waktu, tapi aku menikmatinya, aku sedang belajar menjadi
rekanita (rekan wanita, alias pacar alias cewe yang deket sama taruna) yang
baik dan setia. Selebihnya pacaran hanya bisa lewat telepon di hari sabtu dan
minggu, kadang rabu juga ada sih pesiar, tapi hari ini pesiar pertama Kennardi.
Aku mencari mushola, sembari menggendong tas
besar, untuk menghabiskan 2 hari berlibur ke kota ini. solat subuh adalah
pilihan utamaku sekarang, sebelum harus mencari taxi menuju kawasan Candisari
Semarang
Matahari
pagi menyambut cerah suasana hatiku pagi ini, masih ada beberapa jam lagi aku
bisa ketemu Kenn pesiar, sudah saatnya aku bersiap diri menuju kawasan
Pendanaran Semarang, kata orang sini sih lumayan jauh, satunya transportasiku
hanyalah taxi. Menikmati beberapa jam keliling Semarang mungkin akan
menyenangkan.
Aku
duduk di kursi sudut jendela Tongji Citraland, menikmati riuhnya jalanan
Simpanglima Semarang, baru sekali aku kesini sudah terhanyut dengan rasa
cintaku di kota ini. Aku menatap bungkusan kotak disebelah kursi ku sembari
menikmati tempe mendoan yang enak banget.
Jam
sudah menunjukan jam 1 siang, setelah solat dzuhur di masjid sekitaran
Simpanglima, aku memilih untuk mencari taxi yang akan membawaku kembali ke
daerah Candisari lagi. Hati ini benar-benar enggak bisa diatur detaknya, aku
ingin cepat bertemu Kennardi, menikmati 2 hari ku di kota ini. 2 hari yang
hanya bisa dihabiskan dalam waktu beberapa saat saja.
.........................................................................................................................................
“Kennardi
mana?” tanya Dimas
“yo
suh, kenapa?”
“disuruh
menghadap brigadir taruna Bagus” kata Dimas.
“mampus
kau! Ada masalah apaan sama senior?!” tanya Angga
“waahh
Ken, parah lu!” kini Dwi menambahkan
“saya
kesana dulu deh, sudah siap.” Jawab saya ringan sambil senyam senyum.
“lu
gak pesiar?” tanya Dwi.
“ini
mau pesiar sama Bang Bagus” jawab saya ringan.
Kaki
saya melangkah menuju resimen akademi kepolisian, langkah yang sangat ringan,
seakan tidak ada beban dan khawatir berlebih, ketemu senior, saya gak boleh takut,
apapun yang diperintahkan kerjakan dengan senyuman dan ikhlas!.
Pakaian
dinas pesiar malam taruna sudah saya gunakan dengan baik hari ini, ini pertama
kalinya saya pesiar, pertama kalinya saya menggunakan baju ini, sebuah kemeja
tangan panjang abu-abu, dipadukan dekan jas berwarna coklat, dengan pedang
kadga yang tersemat di bagian kiri pinggang saya. Menenteng tas pesiar besar,
dengan pet (topi) yang selalu membuat keringat mengucur deras. Saya sesekali
mengecek penampilan saya ketika melihat cermin, atau kaca besar, memerhatikan
diri, sudah baik atau belum. Memegang saku baju, memastikan buku saku taruna
selalu saya bawa.
Setiba
di cafe Taruna, saya melihat beberapa senior yang menaiki bus akademi
kepolisian, mereka sudah mau pesiar. Saya menunggu kabar bang Bagus, dan
bodohnya saya tidak tahu nomor hpnya bang Bagus.
“dek!”
teriak bang Bagus.
“siap!”
saya berlari menuju Bang Bagus.
“maaf
saya terlambat bang”
“gak
apa-apa dul, ayok, kita naik bis itu, turun digerbang”
Hati
saya langsung meringis, bagaimana tidak, bis itu berisi senior tingkat 3 dan
saya tingkat 1 yang masih bau kencur.
“sudah
tidak apa-apa, mereka taunya kamu adik saya”
Banyak
pandangan heran senior ketika saya masuk dalam bis ini, beberapa orang
memberikan sorotan mata bingung dan seakan mengintimidasi (padahal Cuma
perasaan aja).
“pacarmu
nunggu di Kfc?”
“siap
bang, tadi baru saya telepon , dia bilang sudah di Kfc”
“hari
ini, kamu pesiar sama abang, besok juga bareng, tapi nanti kita pisah, kamu
sama pacarmu saja kemana kek, nanti isya besok kita ketemu lagi, abang biar
memastikan adik abang aman untuk pesiar perdananya, jangan pulang terlambat
apalagi kamu junior. Oiya satu hal lagi, jaga sikap dan pandangan selama pesiar
yah. Jangan malu-maluin, liat ini kerah bajumu keringat, mana sapu tanganmu”
“sapu
tangan saya ada bang” saya langsung membuka tas pesiar saya, mencari sosok
bernama sapu tangan, dan mengelap keringat yang mengucur. Gerah sekali.
Hening
tercipta dengan cepat, nafas saya mulai tidak teratur, ini lebih deg-degan
ketimbang masuk akpol pertama kali. Tiara sudah menunggu disana.
.....................................................................................................................................
TIARA
Aku memandang
gerbang Akademi Kepolisian, sesekali kepalaku celingukan kayak anak ilang.
Gerbang ini sungguh besar, beberapa orang taruna melewatiku, aku masih mencari
sosok Kennardi disini.
“Tiara”
seseorang memanggilku pelan
“Kenn”
sapaku ringan.
Kenn
dengan seragam pesiar malamnya sungguh sangat wibawa, jas coklat tua dengan
baju kemeja abu-abu dipadukan dasi hitam, membuatku tersenyum ringan,
senyumannya seakan ini adalah nafas yang aku inginkan dikala kehabisan nafas.
“sayang”
kata Kenn pelan, sambil memelukku pelan melepas rindu
“kenalin
ini Bang Bagus, kakak ku di Akpol”
“halo
adik ipar, saya Bagus” seseorang bernama Bagus Mengenalkan diri.
“tiara
bang” Jawabku sambil menyalami Bang Bagus.
“yoklah
kita makan di kfc situ aja, abang lapar, didalam gak ada makanan yang bikin
kamu segeran Kenn” kata Bang Bagus
“siap
bang, tapi bang. Hmmmmmm” suara Kenn menggantung.
“abang
yang teraktir hari ini dan besok, kamu harus irit uang sakumu, abang ada uang
lebih. Jangan khawatir”
Kami
bertiga makan sore di Kfc Akpol, Kenn berbeda dengan kenn sebelumnya, dia lebih
pendiam karena seniornya, sedangkan bang Bagus sangat humble mengajak kami
berdua berbicara tentang pacarnya yang Putri Indonesia. Kami terlarut dalam keakraban
bang Bagus, kemudian bang Bagus minta Line dan emailku, dia akan mengabarkan
keadaan Kenn lewat jejaring sosial itu. Bagaimana tidak, kenn hanya bisa
berhubungan denganku sabtu dan minggu, sedangkan bang Bagus dia bisa main
laptop dikamarnya, karena tahun depan dia akan lulus dari Akademi ini.
“dek,
abang mau ajak kalian ke simpang lima, kita nyari angkringan, kita nikmati
malam ini dengan baik yah!”
“siaaapp
kakakuuuuu” jawabku senang.
Aku
memegang tangan Kennardi sepanjang perjalanan menuju simpang lima, kini aku
yang mengajukan untuk membayar taxi, karena engga enak pacaran gratisan, dan
Kenn memaksa untuk membayar makanan ringan sesampainya di simpanglima, walaupun
engga disetujui bang Bagus, akhirnya kakak kami itu luntuh juga dan mengalah.
Kawasan
Simpanglima malam hari berbeda dengan siang hari, sungguh ramai dan penuh
cahaya, kami bertiga menikmati waktu ini sebaik mungkin, bang Bagus tanpa
canggung mengajak kami bersepeda mengelilingi bundaran Simpanglima. Dia memang
sudah seperti kakak ku dan Kenn saat ini. Bang Bagus cerita bahwa dia anak
tunggal dan dia mencari sosok adik yang bisa dipercaya, dan Kenn lah pilihannya
sebagai penerus dia kelak.
“Kenn
bisa main sepatu roda?” tanya Bang Bagus
“siap
bisa bang”
“ayok
kita main, abang sudah lama ga sebebas ini dek, senang sekali”
Aku
memegang jas yang mereka pakai tadi, badan Kenn dan Bang Bagus sungguh sangat
menggiurkan, seksi banget, pengen meluk rasanya. Mereka tertawa bersama tanpa
ada pembatas senior dan junior, sesekali bang Bagus memberi jitakan kepala
Kenn, dan Kenn sesekali merangkul bang Bagus ketika akan terjatuh tanpa
canggung, mereka seperti adik kakak.
Melihat
beberapa anak-anak kecil bermain otoped mengingatkanku ke masa kecil, masa
dimana aku bermain otoped dan petak umpet, aku rindu masa itu.
Taxi
membawa kami kembali ke Akpol, kenn nampak lelah hari ini, sesekali aku
mengelap keringatnya yang turun dari kepala botaknya, beberapa kali Kenn
menolak karena malu dengan Bang Bagus, tapi bang Bagus justru mengijinkan kami
romantis ria didepannya. No problem.
.....................................................................................................................................
Minggu
pagi aku masih menikmati sarapan pagiku di hotel, mataku masih sepet, tidurnya
tengah malem karena seneng ketemu Kenn sekaligus sedih karena harus berpisah
lagi hari ini.
“Tiara”
sapa seseorang dibelakangku
“Ken???”
tanyaku
“kok
kesini pagi?” tanyaku lagi.
“hehehhe..
disuruh kakak.”
Aku
mengerti maksud Kenn siapa, kami menikmati sarapan kami berdua, karena jatah
kamar kan 2 orang. Hari ini sesuai janji kami, aku, Kenn, Abu, Reza dan bang
Bagus akan berjalan bersama-sama diSemarang, sengaja bang Bagus menyewa mobil
untuk kami pakai bersama-sama, Kenn sudah terlebih dulu menjemputku di hotel,
sedangkan Abu, Reza menemani bang Bagus mencari kendaraan untuk disewa hari
ini.
Kenn
sarapan dengan lahap, dia bilang makanan di akpol semua terbatas, gizinya
dipantau, jadi kalo dapet makanan enak gini itu, rejeki anak soleh. Kenn
mengambil beberapa kali cemilan, jus, dan buah-buahan, dia bilang udah lama ga
makan enak.
Jam
sudah menunjukan pukul 11 siang, kami berlima sudah memasuki gedung tua lawang
sewu. Bangunan ini benar-benar indah. Kami berjalan mengekor bang Bagus, dengan
seksama bang Bagus menceritakan sejarah bangunan ini, sesekali aku celingak
sana celingak situ buat menikmati bangunan ini.
“kita
foto ya?!” kata Bang Bagus
“siap
bang” jawaban 3 sekawan
Aku
berjalan beriringan dengan Kenn, memegang tangannya erat, berfoto bersama, ini
waktu yang harus kami nikmati bersama hari ini. Kenn bercerita banyak hal
tentang kehidupan barunya, pada awal sulit hingga akhirnya dia bertemu Bang
Bagus, semua menjadi berubah, dia lebih bersemangat dan tidak mau leha-leha
lagi.
“sayang”
panggil Ken ditengah keheningan kami berdua yang berpisah dengan Abu,Reza dan
bang Bagus.
“iya”
“hmmmmm”
Kenn celingak celinguk diruangan seribu pintu.
“aku
sayang kamu” lanjutnya.
Sebuah
ciuman mendarat di bibirku, ciuman hangat seorang taruna yang membuatku jatuh
cinta dari dulu, ini ciuman pertama kami, kenn memelukku erat, memastikan bahwa
dunia ini hanya milik kami berdua. Aku memegang pipinya yang keras, merasakan
otot perutnya yang terbentuk, merasakan ciuman hangatnya yang lama.
“EHEM!”
dehaman seseorang membuat kami berdua seketika menjauh.
“Siap
salah bang!” kata Kenn
“PUSHUP
KAMU!” teriak bang bagus, membuat aku merasa takut.
“siap!”
Tanpa
diperintah Reza dan Abu pun langsung memasang posisi pushup, mereka berbarengan
menghitung hingga 50x pushup dan aku hanya merasa takut.
“HAHAHAH!!
Sudah cukup adik-adikku” kata bang Bagus.
“lain
kali kalau mau ciuman, tempat sembunyi, kalo ketahuan orang lain bisa kena
tindakan kamu dek”
Kami
berpisah dengan bang Bagus, beliau melaju dengan mobil sewaannya, sedangkan
kami berempat mencari kendaraan menuju Paragon Mall. Sesuai dengan janji kami
berempat, kami akan menunggu bang Bagus jam 5 sore di mall itu, jadi kami
memutuskan untuk membuang waktu disana, menonton film berempat, dan sesekali
mengirim foto di grup bbm, yang mendapatkan banyak hinaan dari Laras dan Nina,
mereka bilang 3 cowo ini hitam, dekil, jelek, botak,kurus. Dan memang benar
sih.
“Kenn,
bang Bagus sumpah baik saktaaekkkk!!” kata Abu. (saktaek : sekali)
“beruntung
kamu dekat dengan bang Bagus, dianggap adik pula, kita bisa aman hahaha” tambah
Abu.
“hahha,
kalian harus cari calon kakak asuh juga sepertinya”
(kakak
asuh : kakak pengganti kakak kandung dikeluarga asli, ini sudah ada dari jaman
akademi bersenjata indonesia, kakak asuh didapatkan ketika pemilihan keluarga
asuh, jadi junior tingkat 2 memilih barang kakak asuhnya, yang kemudian menjadi
miliknya nanti tanpa tahu itu milik siapa, entah seniornya yang mana dan masuk
kedalam keluarga asuh, biasanya ada beberapa taruna junior dalam satu keluarga,
dan mereka kalo ada apa-apa cerita ke abang-abangnya, dan belum tentu Kenn
masuk kedalam keluarga asuh bintang bang Bagus).
Tradisi
ini merupakan budaya turun temurun dan telah menjadi sebuah kebiasaan. Salah
satu tradisi tersebut adalah tradisi ‘keluarga asuh resimen’. Tradisi ini
memiliki makna sebagai berikut :
1. Mengembangkan
sifat asah, asih dan asuh antara Taruna senior dan Taruna junior dengan
membentuk suatu ikatan Keluarga Asuh yang terdiri dari Taruna Tk IV, Tk III dan
Tk II. Hal ini diharapkan ikatan keluarga asuh ini dapat menjalin komunikasi
antara Taruna senior dan Juniornya apabila ada permasalahan-permasalahan yang
dihadapi selama melaksanakan pendidikan di Akademi Kepolisian, dan secara luas
bisa diteruskan / dilanjutkan pada saat berdinas nanti bahwa pemilihan Kakak
asuh dan adik asuh merupakan acara tradisi yang mempunyai maksud agar lebih
menjalin rasa kekeluargaan dan kekerabatan antara Taruna Senior dengan taruna
Junior
2. Pemilihan
kakak Asuh dan adek Asuh diharapkan dapat menjadi suatu kegiatan yang positif
sehingga dapat mengurangi suatu tindakan-tindakan kekerasan dari Taruna Senior
3. Dengan
diadakannya Tradisi pemilihan Kakak Asuh dan Adek Asuh dapat menimbulkan
kepedulian seorang taruna senior kepada Junior dan juga dapt menumbuhkan sikap
Respek dan Loyalitas seorang Taruna Junior kepada taruna senior.
Kegiatan ini dilaksanakan pada
awal masa pendidikan taruna (Cabhatar), dibawah tanggung jawab Ketua Senat
Korps Taruna. Dalam kegiatan ini, taruna senior akan dipertemukan dengan taruna
junior sehingga setiap taruna senior mendapatkan satu atau dua orang taruna
junior sebagai adik asuh-nya. Kemudian para adik asuh tersebut akan mengikuti
nama keluarga asuh yang dimiliki atau sesuai dengan keluarga asuh dari kakak
asuhnya langsung.
Saat ini di Akademi
Kepolisian, terdapat sekurangnya 23 keluarga asuh dengan jumlah yang tidak sama
pada setiap keluarga asuh tersebut. Hubungan antara keluarga asuh ini
menciptakan sebuah in-group yang secara langsung memberikan pengaruh kepada
taruna yang menjadi bagian dari in-group tersebut. (https://ferli1982.wordpress.com/2012/05/29/hubungan-keluarga-asuh-taruna-akademi-kepolisian-sebagai-upaya-meningkatkan-kualitas-pengasuhan-melalui-optimalisasi-peran-kakak-asuh-taruna/).
Kami
tertawa terbahak-bahak melihat foto kami jaman sma, semua nampak culun. Kesel
juga sih kena bully-an ke tiga
sahabat laki-lakiku yang seorangnya adalah kekasihku. Aku memandangi wajah Kenn
yang selalu aku rindukan selama hampir setahun ini. dan kami bisa bertemu lagi
ketika nanti lebaran 3 bulan lagi, setelah pelantikan bang Bagus tentunya.
Alhasil aku membuat reminder untuk bertemu dengan Kenn bulan depan, ditanggal
28 Mei 2013. Tepat di 4 tahun kami berpacaran, dihari ulang tahun Kenn, di
nomor punggung Kenn dan diangka 28 kesekian kami bersama. Ya walaupun tetap
ketemunya masuk diawal Juni, karena weekendnya
gak pas. 1 juni adalah sabtu huh!.
“sayang
ini buat kamu” kataku memecah obrolan kami
“apa
ini?” tanya Kenn
“buka
aja”
“kita
mana???” tanya Reza.
“ini
buat kalian berdua” kataku.
Jam
tangan Q&Q berwarna hitam dengan behel berwarna merah sudah dipakai Kenn,
sedangkan hadiah untuk Reza dan Abu jam tangan Q&Q berwarna abu-abu.
“semoga
kalian seneng yah, ini hadiah persahabatan kita, aku Cuma bisa beliin itu dari
hasil aku kerja di mcd berbulan bulan ini”
“hmmmmm....”
keheningan tercipta diantara kami, air mataku mengalir turun, disambut pelukan
Kenn, disusul Abu dan Reza, jadilah kami berempat menangis bersama.
“setelah
kalian pendidikan, aku bener-bener kangen banget, jadi aku serius kerja partime
buat nyari uang buat kesini, demi kalian” kataku lirih.
“jangan
nangis Raaaaaaa, nanti kalo saya sudah selesai pendidikan, saya bakal balas ini
ya!” kata Reza
“selamanya
kita sahabat, kamu dan Nina harus baik-baik di Bandung” kata Abu.
“iyah”
jawabku.
Stasiun
Semarang Tawang, malam ini membuat hatiku meringis sedih, pulang ke Bandung
seorang diri dan tidak bisa mendapat kabar dari Kenn sampai sabtu selanjutnya.
Kami
berpelukan berempat, difoto bang Bagus, katanya kami sahabat yang akan selalu
bersama kelak. Aku memeluk sahabatku satu persatu, memeluk hangat kakak asuhku,
dan memeluk erat kekasihku Kenn. berharap ini bukan terakhir kalinya kami
bertemu. Setelah pencocokan tiket dan ktp, aku melangkah masuk kearea peron,
aku menengok kebelakang, melihat Kennardi yang terdiam dengan gagahnya. Dia
orang yang akan aku rindukan lagi sampai semua LDR ini selesai.
“aku
sayang kalian” kataku berteriak di pintu gerbong, melihat mereka berempat di
pintu masuk peron dengan bangga.
Kereta
ini membawaku kembali ke Bandung, jaket akademi kepolisian berwarna kuning
milik kenn ada ditanganku kini, karena kata bang Bagus, jaket kuning ini
untukku, jaket bang Bagus buat Kenn sebagai pengganti.
......................................................................................................................................
“aku sayang kalian” teriakan
kekasihku masih terngiang ditelingaku, saya melihat kakaku sekilas, dia
menguatkan agar saya bisa kuat.
Sekejap
kesedihan menyelimuti saya lagi, saya entah kapan bisa berbicara dengan Tiara
lagi, tidak tahu kapan bisa memeluknya hangat, kapan bisa memegang tangannya
lagi.
“saya
akan kuat bang” gumamku pelan.
“jadilah
abang yang dulu dan sekarang kalian bertiga, sudah jangan sedih, nanti didepan
kita turun, bis masuk akpol nunggu disana, kalian harus ingat titik
penjemputannya dan jam berapa ya! Paham”
“siap
bang”
............................................................................................................................................
Aku hanya pergi ’tuk sementara
Bukan ’tuk meninggalkanmu selamanya
Aku pasti ’kan kembali pada dirimu
Tapi kau jangan nakal
Aku pasti kembali
BAB 4
Januari 2017.
Seperti
biasa agenda Morning briefing pagi
ini menjadi seakan menjadi agenda pekerjaan ku sebagai supervisor front office disalah satu hotel
berbintang di Kota Bandung, tanpa ada komplain hari kemarin. Dan aman!. Aku
memulai pagiku dengan sebotol milktea
dan roti cokelat diruangan kecilku, ketika seorang Cathy memanggilku.
“Ra,
lunch nanti siang kita makan di kfc ya, bosen makan di ruang makan mulu deh.”
“ayok
aja sih, aku juga bosen”
Waktu
bergulir dengan lambat, aku mengecek jadwal cek in dan cek out hari ini,
memastikan room available untuk di
jual hari ini sesuai dengan jumlah tamu yang akan cek in hari ini. aku membuka
beberapa file booking reservation,
memastikan semua nama calon tamu sudah masuk kedalam data di komputer, dan
memastikan mereka semua masuk dalam kamar yang sesuai dengan pilihan mereka,
jadi ketika mereka datang tinggal rubah status dan isi data ktp nya aja, biar
cepet.
Mengecek
occupancy room hari ini, memandingkan
dengan sister company kami dan menanyakan roomrate hotel sebelah hotel kami
adalah kegiatan kedua ku hari ini. room
occupancy/hotel occupancy yang artinya kurang lebih adalah tingkat hunian
kamar hotel.
Tingkat hunian kamar
dinyatakan dalam persentase dari perbandingan kamar terjual dibandingkan dengan
total seluruh kamar hotel yang available
atau total jumlah seluruh kamar yang bisa dijual.
Dalam hal ini, kamar yang
dijadikan sebagai bahan perbandingan bukan diambil dari total jumlah kamar yang
ada di hotel tersebut. Sebab terkadang terdapat beberapa kamar hotel yang tidak
bisa digunakan oleh karena dalam kondisi rusak atau dalam perbaikan, maupun
karena alasan teknis lainnya.
“halo selamat pagi, mbak mau
tanya Occupancy room hari ini berapa
ya? Sama room avail nya deh kalo
boleh” ketika telepon ku tersambung pada seseorang di sebrang sana yang bernama
mbak Anggita, seseorang yang paling aku benci.
Aku merindukan Kenn lagi hari
ini. dia teramat dalam masuk dalam hati ini.
......................................................................................................................................
“komandan, selamat pagi” sapa
Briptu Iwan.
“pagi
Wan, eh Wan nanti kalo kapolres tanya saya, kalo saya gak ada diruangan, saya
di satlantas ya” jawab saya.
Ini
hari ke 20 saya bekerja sebagai kepala sentra pelayanan kepolisian polres
Bandung. Ruangan saya memang tidak begitu besar, tapi lumayan untuk bersantai
sejenak.
Kennardi :
ijin kasuh, 10.2 ? (menanyakan posisi)
Bagus :
Mabes Ken, taruna (berita?)
Kennardi :
jumat malam makan bang, saya mau traktir hehehe.
Bagus :
oke, carikan abang tempat nginap dong di Bandung hehehe.
Kennardi :
siap bang, saya carikan hari ini ya Bang.
Bagus : gak usah mahal adikku, yang murah saja, asik ditraktir
perwira hehe..
Kennardi :
Alhamdulillah bang akhirnya jadi polisi juga hahahha.. JJJ
“wan
hotel yang bagus dibandung dimana ya?” tanya saya
“murah
apa mahal komandan?”
“sedang
aja hahahah!!” jawabku asal.
“hotel
102 aja komandan didago, hotel bintang 4, tapi murah komandan,untuk berapa
orang ndan?”
“untuk
senior saya nih. Seorang dia aja”
“102
aja ndan, bagus kook itu”
“oke”
Saya
membuka info hotel 102 yang dimaksud Iwan, banyak pilihan kamarnya juga, dan
dekat dengan kota, jadi mudah saya ajak bang Bagus kemana-mana. Bang Bagus baru
naik pangkat menjadi IPTU beberapa hari yang lalu, dia bukan sekedar abang
asuh, lebih seperti kakak kandung, beberapa kali ketika saya taruna, bang Bagus
menginap dirumah saya di Bandung, membantu orang tua saya berjualan nasi, saya
sudah melarangnya terkadang, tapi beliau selalu bilang, bakti anak dek.
Bang
Bagus memang panutan saya sampai sekarang, walau dia berdinas di Mabes, setiap
weekend kami selalu meluangkan waktu bersama, kebetulan saya penempatan di
Polda Jawa Barat dan beliau di Polda Metro Jaya, jarak yang dekat antara
Bandung dan Jakarta. Saya masih ingat betul ketika bang Bagus resmi dilantik
dan mengawali karirnya di Jakarta, beliau selalu menyempatkan waktu menjenguk
ibu saya,mengajak ibu berjalan-jalan. Bang Bagus sudah tidak memiliki kedua
orang tua, itu saya ketahui ketika pelantikan usai, bang Bagus bercerita
tinggal bersama Om dan tantenya, yang merawat dia selama menjadi Taruna,
ayahnya wafat ketika bang Bagus tingkat 3 dan ibunya ketika Tingkat 4, sebulan
setelah wafat ayah saya. Itulah alasan Bang Bagus menjadikan ibu saya sebagai
ibunua juga, agar ibu saya ada yang menjaga dan agar saya tetap konsentrasi di
tingkat tersulit saya waktu itu.
“ONE O TWO hotel, this Tiara speaking How
May i Assist you” suara diseberang sana terdengar sangat menyejukkan hati,
dan saya sangat mengenal suara yang sudah 3 tahun tidak saya dengarkan.
“Helo
Miss, saya Romeo” kata saya mengganti nama.
“halo
pak Romeo, ada yang bisa kami bantu?” tanyanya lembut dengan penuh kewibawaan.
“kalo
untuk weekend ini, jumat sabtu minggu ada room kosong ga?”
“untuk
room apa pak? Kami ada standar deluxe
room, junior suite room, suite room pak, ingin yang mana pak?”
“bisa
dijelasin fasilitasnya?”
“bisa
pak Romeo, untuk standar room,seperti
biasa pak, ac,tv kabel, kamar mandi standing
shoower, tempat tidurnya single,
kalo deluxe tempat tidurnya king size pak, kalo junior suite ini
perbedaan dikamar mandinya pak, ada bathtub
nya, kalo untuk suite room, ini
ada ruang tamunya pak”
Otakku
memutar keras mencari alasan agar bisa mendengarkan suaranya Tiara. Ya saya
yakin dia adalah Tiara yang lama menghilang. Tiara yang saya rindukan.
“kalo
untuk junior suite berapa tarifnya?”
“untuk
semalam, 1.200.000 ribu rupiah pak”
“kalo
deluxe?”
“750.000”
“yasudah
deluxe saja deh mbak, atas nama bapak Bagus ya, nomor teleponnya 081234567890
atas nama saya romeo, soalnya ini bos saya yang nginap nanti. Jadi kalo ada
apa-apa telepon saya saja” perintahku.
“baik
pak, oiya pak ini untuk 3 hari ya?”
“iya.”
Ini
kesempatan yang tidak disengaja, saya berusaha mencari Tiara, tapi tidak pernah
berhasil, setelah Nina bekerja di Bali, saya justru makin kehilangan jejak
Tiara dan keluarganya.
“Saya
mendapatkan kamu Tiara! Jangan pergi lagi untuk kali ini” kataku mantap.
.......................................................................................................................................
TIARA
Motorku melaju disekitaran
Dago Bandung, rasanya ingin cepat pulang kerumah, dan mengistirahatkan kondisi
badan yang kurang enak. Jalanan Bandung sore ini masih seperti biasa, ramai
sekali, untung rumahku sudah pindah ke daerah Jalan Patrakomala, jadi gak butuh
waktu lama untuk sampai dirumah.
Setelah makan obat dan bubur
ayam yang dibeli dijalan, aku memasuki kamarku dilantai 2, kamar yang berbeda,
kini aku mempunyai rumah, bukan mengontrak lagi, walaupun rumah ini engga besar
seperti rumah sahabat-sahabatku, setidaknya aku sangat bersyukur engga harus
perpanjang kontrak rumah lagi.
Disudut meja belajarku, ada
foto yang masih aku simpan sampai sekarang, foto Kennardi. Jujur. Aku masih
sayang dia. Sangat mencintainya, tidak ada alasan membencinya. Tidak ada alasan
untuk bohong kalau gak mikirin dia.
Perlahan aku memegang figura
itu, menempelkannya didadaku, sambil tiduran, menatap foto itu lekat, dan
menangis tersedu.
BAB 5
Honolulu, Hawai’i 2017
Aku
menikmati segelas fruit tropical di barefoot
beach cafe daerah Waikiki Beach,
yang berjarak sekitar 10KM dari kampusku di daerah Manoa, aku merindukan 5
sahabatku, terutama Tiara, udah beberapa bulan ini dia bagaikan lenyap ditelan
bumi, dia menghilang dalam sekejap mata, rumahnya pun sudah pindah, dan gak ada
yang tau kepindahannya. Terakhir kami bertemu sekitar pertengahan tahun kemarin
ketika pelantikan Abu, Reza dan Kenn di Akademi Militer, itupun Tiara enggan
bertemu dengan Kenn, dia hanya memberikan selamat kepada Abu dan Reza, ya
bertemu Kenn sih sebenarnya, itupun setelah dipaksa Nina. Padahal masih siang
waktu itu, dia langsung lenyap ditelan bumi, semua kontak line, bbm, telepon
kami, dia block, facebook, path dan instagram dia deactived. Tiara yang menghilang sejak saat itu, membuat kami
semua kelimpungan, termasuk kantornya di daerah Senayan City pun enggak tau pindah kemana Tiara setelah mengajukan resign.
Persahabatan
aku dan Tiara diawali ketika kami duduk di bangku sd, dari sana kami seakan gak
pernah lepas, bahkan smp dan sma pun kami sekelas lagi, sampai akhirnya ketemu
Nina, cewe yang kecil mungil tapi jago olahraga. Jadilah kami bertiga sahabat.
Kalo tentang 3 cowo itu, sebenernya mereka itu temen kerja kelompok awalnya, Sering
kerja kelompok bareng membuat kami bersahabat terus sampai detik ini, tapi
semua seakan berubah, Tiara menghilang, menghilangkan sebuah pilar persahabatan
kami ber 6.
“hai!,
sendirian aja” seseorang menyapaku, dengan sebutir kelapa muda ditangannya.
“hai
Bayu” jawabku.
“aahhh
gua rindu Indonesia, pengen pulang kampung, tapi duitnya belom cukup” keluh
Bayu
“sama
Bay,gue jugaaaaaaaaa” kataku ga kalah menyerah.
Ini
tahun ke 5 ku di Hawai’i, dan selama itu aku baru pulang 2 kali. Menjadi
mahasiwa di kepulauan Hawai’i sangat jarang dilakukan oleh mahasiswa indonesia,
mereka lebih memilih Newyork, atau Kansas sebagai tempat pendidikannya. Kadang
aku merasa asing berada disini, bagaimana engga, Hawaii terlepas dari benua
Amerika, tapi masih masuk negara ini sih beruntungnya. Hawaii termasuk kedalam
oceania, yaitu istilah yang mengacu kepada suatu wilayah geografis atau
geopolitis yang terdiri dari sejumlah kepulauan yang terletak di Samudra
Pasifik dan sekitarnya. Oseania merupakan wilayah di Bumi (sering dianggap
benua) dengan luas area daratan terkecil dan jumlah populasi terkecil kedua
setelah Antartika.
Hawaii
sendiri Saat ditemukan, Hawaii masih berupa kerajaan yang berturut-turut
diperintah oleh raja Kamehameha I hingga Kamehameha IV lalu dilanjutkan oleh
Lunailo, Kalakaua, dan pemimpin terakhir adalah Liliuokalani. Setelah ditemukan
oleh AS pada tahun 1900, kepulauan ini dikuasai dan disahkan sebagai negara
bagian Amerika Serikat ke-50, pada tanggal 21 Agustus 1959. Hawaii merupakan
salah satu pulau wisata paling terkenal di dunia, potensi keindahan alam serta
wisata bahari yang sangat unik membuat Hawaii dikenal hampir seluruh pelosok
dunia. Salah satu tokoh terkenal asal Hawaii adalah Duke Kahanamoku, yang
merupakan penemu olah raga selancar (wikipedia hawaii). Jadi kamekameha
sebenernya bukan kekuatan dari Goku!, dia nama raja di Hawai’i dan ketika baru
tau tentang itu, aku langsung paham, kenapa goku alias dragon ball, shooting di
pantai terus, mirip film arale, dan ternyata lokasi shooting mereka di Hawai’i.
Aku
berjalan menyusuri jalan Kalele Rd. Menuju rumah kecilku selama tinggal di
Hawai’i. Dikawasan Kalei Rd, gerah banget Hawai’i menjelang malam membuatku
pengen mandi lagi dan lagi.
Nina : Guys
gue kangen. Selamat tidur ya.
Reza : gue
lo? Hahaha! Btw saya lagi bete nih, masih di polda ga bisa pulang, Jawa Barat
sama Jawa tengah aman?
Abu : Jawa
Tengah masih masuk dalam pulau Jawa tenang aja hahaha..
Nina : Tiara
udah ketemu?
Kenn : sudah
saya temukan J mohon doanya.
Ketika
baca itu, aku memutuskan untuk melakukan video
call confrence. Penasaran dengan tingkat kekepoan udah level 100.
“HALO
GENG!” kataku ketika telepon tersambung
“jadi
Kenn, ketemu Tiara dimana?” tambahku.
“Iya
Kenn, ga cerita nih” Kata Nina.
“loh
baru tadi siang kok saya ga sengaja tau kantor dia, Cuma saya belom mau cerita
deh, takut salah orang, mau mastiin dulu bener apa bukan besok hahaha”
Perbedaan
waktu 17 jam harus membuat kami berlima pintar membagi waktu cerita, keunggulan
Indonesialah, yang selalu membuat waktu saya terganggu dengan gossip mereka
semua. Tapi saya sangat merindukan ini, terkadang saya membagi foto matahari
terbenam di Honolulu Beach, dan
matahari terbit di atas bukit sekitara Manoa, segala sudut memandang hanyalah
lautan dari pandangan indah matahari.
Aku
melihat wajah Kennardi yang tersenyum, dia sungguh berbeda, mukanya tampak
bahagia kali ini, semoga kekasih hatinya cepat kembali. Aku sangat merindukan
Tiara yang menghilang, aku ga bisa menjaga hatinya yang bertahun-tahun
mengalami sakit yang teramat dalam, dia menyimpannya sendirian, tanpa aku
disana, Nina memang berada disana, tapi Nina tidak terlalu dewasa dalam
tindakan, dia sangat abg.
Rumahku
menghadap ke lautan dibawah sana, remang lampu dari bukit di sekitaran Manoa,
memantul dengan indah dilautan. Aku melepas jilbabku perlahan, sampai akhirnya
sebuah chatting masuk.
Reza :
selamat tidur yah J